ANOMALI CIRAHONG: MENGAPA KALI INI NETIZEN BERANI “MELAWAN” KDM?

Pojok Warung Kopi

ANOMALI CIRAHONG: MENGAPA KALI INI NETIZEN BERANI “MELAWAN” KDM?

Buletin News.id

TASIKMALAYA – Ada yang berbeda dari dinamika media sosial belakangan ini. Jembatan Cirahong, sebuah mahakarya infrastruktur zaman kolonial yang menghubungkan Ciamis dan Tasikmalaya, mendadak jadi panggung benturan persepsi antara Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), dengan massa netizen yang biasanya menjadi pendukung setianya.
Jika biasanya kebijakan KDM disambut dengan narasi “Bapak Aing”, kali ini kolom komentar dipenuhi sanggahan. Apa yang sebenarnya terjadi di Cirahong hingga memicu reaksi kontra yang masif?

Saur pupuhu Ki Sanca sareng Mamang kieu :

Cirahong: Bukan Sekadar Jembatan, Tapi “Ruang Tanpa Negara”

Istimewanya Cirahong terletak pada fungsinya yang sangat spesifik dan berisiko tinggi. Jembatan ini memiliki jalur ganda: kereta api di atas dan kendaraan di bawah. Dengan lebar yang sangat sempit dan struktur kayu yang rentan, Cirahong tidak bisa dibiarkan tanpa pengaturan manual yang presisi.
Selama puluhan tahun, peran “Negara” nyaris tak terlihat dalam pengaturan teknis harian di bawah jembatan ini. Kekosongan itu diisi oleh petugas jaga lokal (Kadal). Mereka bukan sekadar pengatur lalu lintas, melainkan “juru selamat” yang memastikan kendaraan tidak terjepit atau terperosok di tengah jembatan. Inilah yang membuat publik terhenyak ketika KDM secara mengejutkan langsung melontarkan statemen tentang ancaman pidana terhadap praktik swadaya tersebut.

Saur tokoh pupuhu di Margaluyu Dian :

Mengapa Statemen Pidana KDM Terasa “Off-Side”?

Netizen menyoroti bahwa statemen pidana yang dilemparkan KDM terasa terburu-buru dan mengabaikan sejarah panjang pengabdian warga lokal.
Tanpa Solusi Substitusi: Bicara pidana tanpa menghadirkan petugas resmi (Dishub/Kepolisian) yang berjaga 24 jam di lokasi dianggap sebagai tindakan yang hanya mematikan mata pencaharian tanpa memperbaiki keadaan.

Unsur “Kebaikan” yang Terlupakan: Netizen berbantah karena mereka merasakan langsung manfaat para penjaga ini. Tanpa mereka, Cirahong dipastikan akan macet total atau bahkan memakan korban jiwa akibat struktur jembatan yang unik.

Saur Ki Purwakalih :

Netizen Melawan: Sebuah Sinyal untuk Tabayun

Baru dalam kasus Cirahong ini, gelombang kontra muncul dari para tokoh Aliansi Pemangku Budaya Sukapura dan Tatar Galuh. Mereka menilai KDM kali ini kehilangan sentuhan “Rasa” yang biasanya menjadi kekuatannya.
Pernyataan sepihak dari kacamata hukum formal dianggap tidak adil bagi mereka yang sudah berkeringat menjaga warisan budaya ini saat pemerintah tidak hadir. Misi berita ini jelas: Audiensi antara KDM dengan para ahli dan tokoh Galuh-Sukapura adalah harga mati. Masyarakat menginginkan solusi yang meluruskan sistem, bukan sekadar memenjarakan orang-orang kecil yang mengisi celah tugas pemerintah.

Pojok warung kopi bersama Narasumber : 
1. Dian Cahyadi
2. Herdis
3. Erik
4. Ki Sanca
5. Jujun
6. Ki Purwakalih

(Ki PR)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *