Wabah DBD Ancam Anak-Anak di Kecamatan Sindang, Warga Minta Penanganan Serius
BuletinNews.id
Indramayu, — Wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali menjadi momok menakutkan bagi warga Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu. Dalam rentang waktu Januari hingga Juni 2025, puluhan anak dilaporkan terjangkit penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue ini, dengan kasus terbanyak terjadi di Desa Kenanga.
DBD merupakan penyakit infeksi virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Penyakit ini ditandai dengan demam tinggi, nyeri otot, dan sering kali disertai gejala perdarahan. Jika tidak segera ditangani, DBD dapat berujung pada kondisi fatal, bahkan mengancam jiwa, khususnya pada anak-anak.
Salah satu warga Desa Kenanga yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi yang terjadi. Ia menyebut sejumlah anak di desanya telah menjadi korban DBD. Ia pun berharap ada langkah nyata dari pihak berwenang untuk mencegah penyebaran lebih luas.
“Saya berharap pada instansi terkait untuk melakukan pemoggingan ke desa-desa, agar jentik-jentik nyamuk Aedes Aegypti bisa dibasmi sebelum makin banyak anak-anak yang jadi korban,” ujarnya.
Sayangnya, menurut seorang kepala desa di wilayah Kecamatan Sindang, upaya pencegahan kerap terbentur birokrasi. Ia menyebut bahwa usulan pemoggingan pernah diajukan ke Puskesmas setempat, namun tidak mendapat respons positif.
“Pihak Puskesmas bilang nanti kalau sudah ada kejadian baru bisa dilakukan fogging. Padahal, mestinya bisa dicegah lebih awal,” keluhnya. Ia menambahkan bahwa meski dana dari pemerintah tidak tersedia, semestinya bisa dicari solusi bersama agar penanganan tidak terlambat.
“Kalau di satu desa sudah lebih dari sepuluh orang kena DBD, itu sudah masuk kategori wabah, bukan sekadar penyakit biasa,” tegasnya.
Dari pihak Puskesmas Sindang, Damir—staf yang menangani program DBD—menjelaskan bahwa mereka sebenarnya telah menyediakan alat fogging. Namun, pelaksanaan pemoggingan sepenuhnya bergantung pada laporan dari Dinas Kesehatan.
“Kalau sudah ada laporan resmi, kami akan kunjungi pasien dan beri edukasi tentang penanganan. Jika perlu dilakukan fogging, maka kami akan meminjamkan alatnya ke pemerintah desa,” jelas Damir.
Ia juga menambahkan bahwa selama ini Desa Kenanga cukup aktif melakukan pemoggingan secara mandiri dengan alat dari Puskesmas, karena memang tidak tersedia anggaran dari pihak Puskesmas untuk operasional kegiatan tersebut.
“Kami melakukan pembinaan DBD di lima desa, yaitu Kenanga, Panyindangan Wetan, Panyindangan Kulon, Terusan, dan Rambatan Wetan. Tapi kami sangat berharap adanya dukungan anggaran dari pemerintah, termasuk untuk penyediaan obat-obatan,” pungkasnya.
Kondisi ini menunjukkan perlunya sinergi lebih kuat antara pemerintah desa, Puskesmas, dan Dinas Kesehatan dalam upaya penanggulangan DBD. Edukasi masyarakat, pemberantasan sarang nyamuk, hingga pengadaan fogging secara rutin perlu menjadi prioritas agar wabah ini tidak terus menelan korban, terutama di kalangan anak-anak yang paling rentan.
Mari bersama cegah DBD sebelum menyebar lebih luas. Bersihkan lingkungan, periksa tempat penampungan air, dan segera laporkan jika ada kasus demam tinggi yang mencurigakan. Waspada DBD, selamatkan generasi masa depan.
(Kosim)





