Pamer Pembangunan di Acara Isra Mikraj, Warga Pranggong Soroti Jalan Belakang Kantor Desa yang Belum Dibangun
Buletin News id
INDRAMAYU || Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW yang digelar di Masjid RT 05 Desa Pranggong, Kecamatan Arahan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, berlangsung meriah dan penuh khidmat. Kegiatan tersebut dihadiri kaum muslimin dan muslimat dari berbagai blok di Desa Pranggong, termasuk para pemuda yang turut memeriahkan acara keagamaan tahunan tersebut.
Namun suasana berubah ketika sesi sambutan sebelum acara inti dimulai. Kuwu Desa Pranggong, H. Sarifudin, dalam sambutannya di aula masjid pada 29 Desember 2025, memaparkan sejumlah capaian pembangunan desa sejak dirinya menjabat. Dengan membawa catatan pembangunan, ia menyampaikan bahwa pihaknya telah membangun sekitar 80 gang serta beberapa saluran air.
Dalam sambutannya, Kuwu Sarifudin juga mengimbau para tokoh masyarakat agar tidak mengkritisi pemerintah desa secara terbuka. Ia meminta warga yang memiliki keluhan untuk datang langsung ke kantor desa. “Saya ikhlas membangun desa ini, sudah banyak gang dan saluran yang dibangun,” tegasnya di hadapan jamaah.
Pernyataan tersebut menuai tanggapan keras dari sejumlah warga dan tokoh masyarakat. Mantan perangkat desa, Rifal (48), yang turut hadir dalam acara tersebut, menyayangkan pernyataan Kuwu yang dinilai tidak mencerminkan sikap seorang pemimpin.
“Seharusnya beliau menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat karena pembangunan di Desa Pranggong belum merata. Contohnya jalan di belakang kantor desa, sepanjang empat RT dari RT 06 sampai RT 09, hingga kini belum dibangun,” ujar Rifal.
Ia menambahkan, saat air di saluran sekunder pasang, air kerap meluap dan masuk ke rumah-rumah warga. Kondisi tersebut menyulitkan aktivitas warga, terutama mereka yang tinggal dekat saluran air. “Warga sering mengadu kepada saya. Jalan terendam air, keluar rumah pun susah,” ungkapnya.
Rifal juga menegaskan bahwa pembangunan desa bukanlah dana pribadi Kuwu, melainkan bersumber dari Dana Desa (DD) yang berasal dari pemerintah pusat. “Kuwu hanya menjalankan amanah, bukan menggunakan uang pribadi,” katanya.
Kritik serupa disampaikan tokoh masyarakat setempat, MH. Ia menilai pidato Kuwu yang disaksikannya melalui tayangan video tidak menunjukkan sikap kepemimpinan yang terbuka terhadap kritik. “Seorang pemimpin harus siap dikritik dan menerima masukan. Yang terlihat justru sebaliknya,” ujarnya.
MH juga menyoroti sejumlah persoalan lain di Desa Pranggong, seperti penumpukan sampah di jalan Pertamina yang membusuk karena tidak jelas sistem pengangkutannya, meski setiap tahun dianggarkan melalui Dana Desa. Selain itu, ia menilai beberapa pembangunan saluran air tidak memberi manfaat nyata, salah satunya di Blok Pulogosong, serta pembangunan TPT di samping rumah anak Kuwu.
Lebih lanjut, MH mengungkapkan bahwa anggaran Dana Desa dari tahun ke tahun tidak pernah dipublikasikan secara terbuka kepada masyarakat, baik melalui baliho maupun media informasi lainnya. Ia juga mempertanyakan pengalihan anggaran BUMDes tahun 2024 yang digunakan untuk kegiatan studi banding (setaditur) bersama ibu-ibu PKK.
“Pertanyaannya, kapan Dinas Inspektorat turun memeriksa kuwu-kuwu yang diduga menyalahgunakan wewenang dan tanggung jawabnya terhadap warga?” tegas MH.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada klarifikasi lanjutan dari pihak Pemerintah Desa Pranggong terkait berbagai kritik dan keluhan warga tersebut.
(KA/AB)





