Menjaga Warisan dan Membangun Ekonomi : Warga Komit Jaga Jembatan Cirahong: “Kami Tak Ingin Sekadar Jadi Penonton”

Menjaga Warisan dan Membangun Ekonomi : Warga Komit Jaga Jembatan Cirahong: “Kami Tak Ingin Sekadar Jadi Penonton”

BuletinNews.id

Tasikmalaya, Manonjaya|| Jembatan Cirahong bukan sekadar tumpukan baja tua. Bagi warga di perbatasan Manonjaya dan Ciamis, ia adalah urat nadi sejarah sekaligus harapan masa depan.

Kini, semangat menjaga warisan leluhur tersebut menyatu dalam sebuah wadah bernama Forum Masyarakat Jaga Rumat Cirahong (FORMAS JARUM CIRAHONG).

Hadirnya forum ini menjadi jawaban atas keresahan warga yang ingin bergerak menata kawasan wisata tanpa harus terbentur kekhawatiran tuduhan pungutan liar (pungli). Fokus utamanya jelas: Menata kawasan sekitar agar siap menyambut hadirnya Jembatan Cirahong 2 yang nantinya akan kembali membuka akses kendaraan roda empat antara Kecamatan Manonjaya dan Ciamis.

​Payung Hukum dan Kesadaran Lokal

​Kondisi Jembatan Cirahong lama yang kini di-portal dan hanya bisa dilalui roda dua memang menjadi pilihan pahit demi alasan keselamatan. Usia baja yang sudah tua mengharuskan beban berat dialihkan. Seperti ungkapan warga setempat, “Cukuplah punggung Cirahong memikul naga besi milik PT KAI, jangan lagi perutnya dibebani beban yang tak sanggup ia tanggung.”

Menyadari hal itu, warga dari Desa Margaluyu dan Desa Cilangkap mendesak kedua kepala desa untuk segera menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB). Langkah ini diambil agar pengelolaan swadaya yang dilakukan masyarakat memiliki regulasi yang kuat dan payung hukum yang jelas.

“Kami bergerak secara swadaya. Ini adalah bukti bahwa orang Cirahong siap mengelola tanah kelahirannya sendiri. Kami tidak mau hanya jadi penonton atau sekadar penerima manfaat, kami siap bersinergi dengan pemerintah dan BUMN seperti PT KAI, Dinas Pariwisata, hingga Perhubungan,” ujar Herdis (52), Ketua FORMAS JARUM CIRAHONG saat ditemui di Sekretariat yang bertempat di Warung Pak Andi, Jumat pagi.

Potensi Ekonomi dan Wisata Edukasi

​Kawasan Cirahong yang selalu dipadati pengunjung setiap akhir pekan menjadi berkah bagi para pelaku UMKM, petugas parkir, dan tim kebersihan. Namun, FORMAS JARUM memiliki visi yang lebih besar. Mereka ingin Cirahong ramai setiap hari, bukan hanya di hari Sabtu dan Minggu.

Rencana pengembangan pun mulai disusun, mulai dari wahana outbound, bumi perkemahan, kebun binatang mini, hingga arung jeram.

​Eeng, Sekretaris FORMAS JARUM, menambahkan bahwa persiapan ini dilakukan sebagai bentuk kesiapan warga menghadapi perubahan zaman.

“Terlepas dari rencana proyek Jembatan Cirahong 2 nanti, kami tetap menunjukkan bahwa masyarakat lokal sangat siap untuk dilibatkan dan diberdayakan,” tegasnya.

Mencegah “Bom Waktu”

Kesemrawutan
​Saat ini, anggota forum sudah mencapai lebih dari 100 orang yang terdiri dari berbagai profesi. Mereka sadar bahwa tanpa tata kelola yang baik, keramaian Cirahong bisa menjadi “bom waktu” bagi masalah ketertiban dan sampah.

Dengan menjaga prinsip titinggal karuhun (peninggalan nenek moyang), warga berkomitmen menata kawasan ini dengan tetap menjunjung tinggi nilai religi, norma adat, dan kearifan lokal. Mereka berharap pemerintah hadir untuk membina dan mengarahkan, agar mimpi menjadikan Cirahong sebagai destinasi wisata unggulan yang tertib dan aman dapat segera terwujud.

(Eeng)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *