Galunggung di Musim Hujan: Antara Riuh Wisata dan Sunyi Kawah, Keamanan Tetap Terjaga
Buletin News.id
Oleh: Ki Purwakalih
TASIKMALAYA || Semilir angin kencang menyambut kedatangan saya di kaki Gunung Galunggung, Jawa Barat, kemarin. Perjalanan darat dari Purwakarta menuju kawasan kawah gunung primadona ini bukan sekadar pelesir biasa.
Tongkat kayu dan secangkir kopi hitam menjadi teman setia untuk menyaksikan lebih dekat bagaimana “sang raksasa” bernapas di tengah guyuran musim hujan yang kian intens.
Gunung Galunggung menyuguhkan dua wajah yang kontras. Di area camping ground, tenda-tenda warna-warni berdiri kokoh, diisi tawa para anak muda yang tampak tak gentar oleh gerimis. Aktivitas wisata tetap hidup, seolah hujan hanya menjadi latar, bukan penghalang.
Namun suasana berubah drastis ketika langkah diarahkan ke tangga menuju kawah. Di sana, kesunyian terasa lebih pekat. Angin yang berhembus cukup kencang membuat sebagian wisatawan memilih untuk tidak berlama-lama di bibir kawah. Kabut turun perlahan, menutup sebagian panorama, seakan alam sedang meminta waktu untuk sendiri.“Di bawah hangat, di atas ia ingin berselimut kabut,” begitu kira-kira Galunggung berbicara lewat suasananya.

Keamanan Jadi Prioritas
Rasa penasaran membawa saya menemui pihak pengelola kawasan wisata. Kesempatan berbincang dengan Pak Kusmana, perwakilan Perhutani di Wisata Gunung Galunggung, membuka gambaran soal kesiapsiagaan pengelola di tengah kekhawatiran publik akan aktivitas vulkanik, khususnya di musim hujan.
“Alat deteksi peringatan dini atau Early Warning System masih berfungsi dengan sangat baik. Jalur evakuasi juga rutin kami rawat dan kelola untuk mengantisipasi segala kemungkinan,” ujar Pak Kusmana dengan nada tenang dan meyakinkan.
Menurutnya, kesiapsiagaan merupakan prinsip utama dalam pengelolaan kawasan wisata alam. Perhutani tidak bekerja sendiri. Warga lokal dilibatkan sebagai mitra aktif, mulai dari pengelolaan fasilitas hingga pengawasan lapangan. Kolaborasi ini menciptakan rasa aman sekaligus menghadirkan nuansa keramahan khas “rumah sendiri” bagi para pengunjung.
Waspada Tanpa Takut
Secara logika, kewaspadaan memang sebuah keniscayaan, terlebih di kawasan gunung berapi aktif. Namun, waspada bukan berarti takut berlebihan. Hingga saat ini, Gunung Galunggung tetap berada dalam kondisi aman untuk dikunjungi.
Sinergi antara teknologi melalui alat deteksi modern dan kearifan lokal yang dihidupkan oleh warga sekitar menjadi fondasi kuat dalam menjaga keselamatan wisatawan. Galunggung di musim hujan bukan hanya soal pemandangan yang tertutup kabut, melainkan tentang bagaimana manusia belajar hidup berdampingan dengan alam.
Selama sistem peringatan tetap terjaga dan pengelola terus siaga, Galunggung akan selalu menjadi rumah yang aman bagi siapa pun yang datang dengan niat baik.
Refleksi
Wisata ke gunung, sejatinya, seperti menjalani hidup. Kita membutuhkan alat logika untuk tetap waspada, namun juga memerlukan keberanian dan iman untuk melangkah. Jika hanya sibuk takut pada asap kawah hingga lupa pada keindahan ciptaan-Nya, mungkin yang kita butuhkan bukan jarak, melainkan secangkir kopi tambahan agar pikiran lebih jernih.





