Renungan Malam diatas jembatan yang sunyi dan sepi. Luka di Jantung Cirahong: Saat Leluhur Menangis dan Netizen Berbicara

oplus_32

Opini ;

Penulis : Herdis, SC S.Pd

Renungan Malam diatas jembatan yang sunyi dan sepi.

Luka di Jantung Cirahong: Saat Leluhur Menangis dan Netizen Berbicara

​Jembatan Cirahong bukan sekadar tumpukan baja peninggalan Belanda yang melintasi Sungai Citanduy. Ia adalah sebuah “monumen pengorbanan”.

Sejarah mencatat, di balik kemegahannya, ada cucuran keringat, air mata, hingga darah para leluhur kita yang dipaksa bekerja demi berdirinya jalur ini. Secara metafisika, Cirahong memiliki “ruh” yang kuat karena ia dibangun di atas tanah yang sakral, menjadi saksi bisu perjuangan dan penderitaan rakyat pada masanya.

​Namun, apa yang terjadi hari ini? Jembatan yang seharusnya dijaga kehormatannya justru menjadi panggung kekisruhan.

Kemarahan Metafisika dari Balik Sejarah

Secara spiritual, ketidakharmonisan yang terjadi di Cirahong hari ini, mulai dari perdebatan legalitas hingga tekanan terhadap para penjaga swadaya, seolah membangunkan energi para leluhur yang telah lama tenang. Ada sebuah getaran metafisika yang kuat: para leluhur seolah sedang menangis dan marah.

Mereka menangis melihat warisan yang mereka bangun dengan nyawa, kini justru menjadi ajang sengketa dan narasi negatif tentang “pungli” terhadap anak cucu mereka sendiri yang niatnya menjaga keselamatan.

Ketidakterimaan para leluhur ini bukan sekadar mitos, melainkan energi kolektif yang kini bertransformasi menjadi kekuatan nyata di dunia modern.

Dukungan Netizen: Suara “Gaib” yang Menjadi Nyata

Ada fenomena yang sangat menarik dan berbeda kali ini. Biasanya, dalam berbagai isu, arus opini publik cenderung searah mendukung kebijakan tokoh besar seperti Gubernur KDM. Namun, dalam kasus viralnya Cirahong, terjadi sebuah anomali.

Netizen, yang merupakan representasi suara rakyat, justru berbalik arah. Mereka tidak serta-merta mengamini kebijakan yang ada, melainkan berdiri teguh membela para relawan di lapangan.
​Inilah bukti kehadiran “dukungan leluhur” dalam bentuk modern.

Suara netizen yang mengalir deras di media sosial adalah bentuk energi pembelaan terhadap keadilan. Seolah-olah, nurani publik sedang digerakkan oleh frekuensi yang sama dengan rasa sakit hati para leluhur.

Netizen melihat bahwa ada nilai kemanusiaan dan kearifan lokal di Cirahong yang tidak bisa diukur hanya dengan aturan administratif yang kaku.

Pesan untuk Para Pemangku Kebijakan

Kekisruhan ini adalah sebuah sinyal kuat. Jika biasanya kebijakan pemerintah selalu mendapat dukungan penuh, namun di Cirahong justru mendapat tentangan publik, maka ada sesuatu yang “salah” secara fundamental.

Ini bukan sekadar masalah lalu lintas, ini masalah Marwah.
​Para pemangku kebijakan harus sadar bahwa mereka tidak hanya berhadapan dengan aturan di atas kertas, tapi juga berhadapan dengan suara rakyat dan “titipan” sejarah.

Jangan sampai tangisan para leluhur berubah menjadi kutukan sosial karena kita gagal memanusiakan manusia yang telah ikhlas menjaga warisan sakral ini.

Saatnya stakeholder berhenti menggunakan narasi pidana dan mulai menggunakan hati. Karena di Cirahong, setiap jengkal bajanya adalah saksi bahwa keadilan harus berdiri di atas segalanya.

PrabuTunggul Salak

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *