Tradisi Jamasan Pusaka Koesoemadiningrat Kembali Digelar Khidmat di Keraton Selagangga

Tradisi Jamasan Pusaka Koesoemadiningrat Kembali Digelar Khidmat di Keraton Selagangga

Buletin News.id

CIAMIS, || Tradisi Jamasan Pusaka peninggalan Bupati Galuh Ciamis masa lampau, Raden Adipati Aria (R.A.A.) Koesoemadiningrat, kembali digelar dengan khidmat di Keraton Selagangga, Kabupaten Ciamis.

Rangkaian acara sakral ini diawali dengan prosesi kirab pusaka yang berangkat dari Situs Jambansari menuju Keraton Selagangga. Situs Jambansari sendiri merupakan kompleks makam R.A.A. Koesoemadiningrat, Bupati Ciamis ke-18 yang memerintah pada periode 1839-1886, yang dikenal pula dengan gelar Kanjeng Prebu.

Prosesi budaya tersebut dihadiri para penggiat budaya yang tergabung dalam komunitas Nagari Tatar Galuh Ciamis. Turut hadir Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Ciamis Endang, Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga (Budpora) Kabupaten Ciamis Dian Budiyana, serta Ketua Yayasan Koesoemadiningrat Rd. Adi Garcita.

Kepala Dinas Budpora Ciamis, Dian Budiyana, menegaskan bahwa jamasan bukan sekadar ritual membersihkan benda pusaka, melainkan upaya merawat nilai sejarah dan kearifan lokal Tatar Galuh.

“Jamasan pusaka ini merupakan wujud penghormatan kita kepada para leluhur, khususnya R.A.A. Koesoemadiningrat yang telah banyak berjasa bagi Ciamis. Melalui kegiatan seperti kirab dan jamasan ini, kita ingin generasi muda tetap mengenal, mencintai, dan menjaga warisan budaya leluhurnya agar tidak lekang oleh zaman,” ujar Dian Budiyana.

Sementara itu, Ketua Yayasan Koesoemadiningrat Rd. Adi Garcita menyampaikan apresiasi atas sinergi semua pihak yang terus menjaga tradisi leluhur ini.
“Kami dari Yayasan

Koesoemadiningrat sangat bersyukur dan mengapresiasi sinergi semua pihak yang terus menjaga tradisi leluhur ini. Pusaka-pusaka ini menyimpan nilai sejarah dan filosofi kepemimpinan yang luhur. Semoga kegiatan ini terus berlanjut dan memberikan edukasi serta berkah bagi masyarakat Ciamis,” pungkasnya.

Tradisi jamasan sendiri umumnya menggunakan air perasan jeruk nipis dan air dari mata air kahuripan, dengan tujuan merawat pusaka seperti keris, tombak, dan pedang agar terhindar dari karat sekaligus melestarikan nilai spiritualnya.

(Yana Kurniawan)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *