TPK Didorong Tak Sekadar Rapat, Kini Ikut Kawal MBG untuk 3B di Ciamis
Buletin News.id
CIAMIS – Peran Tim Pendamping Keluarga (TPK) dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini semakin diperluas. Para kader tidak hanya bertugas melakukan pendampingan keluarga, tetapi juga dilibatkan untuk memastikan bantuan gizi bagi kelompok 3B-ibu hamil, ibu menyusui, dan balita-benar-benar diterima oleh sasaran.
Penegasan tersebut disampaikan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, saat menghadiri Temu Kader TPK MBG 3B di Islamic Center Kabupaten Ciamis, Selasa (29/9/2026).
Kegiatan tersebut diikuti kader dari berbagai wilayah di Kabupaten Ciamis, mulai dari kader keluarga berencana (KB), kader kesehatan hingga kader kebudayaan.
Menurut Wihaji, keberadaan kader di tengah masyarakat menjadi modal penting pemerintah untuk memastikan program tidak berhenti pada tataran administrasi, tetapi benar-benar menyentuh keluarga yang membutuhkan.
Ia bahkan meminta para kader lebih banyak turun ke lapangan ketimbang terjebak dalam rutinitas rapat dan koordinasi.
“Saya sebagai pembantu Presiden diperintahkan oleh beliau, jangan banyak diskusi, rapat. Tapi harus terjun langsung,” ujar Wihaji.
Bagi Wihaji, kader yang bersentuhan langsung dengan keluarga memiliki posisi strategis. Mereka dinilai lebih mengetahui kondisi riil masyarakat, termasuk memastikan bantuan dan program pemerintah sampai kepada penerima yang telah ditetapkan.
Ciamis Catat 199 SPPG
Dalam kesempatan yang sama, Bupati Ciamis Herdiat Sunarya memaparkan kondisi umum Kabupaten Ciamis, termasuk potensi ekonomi masyarakat yang sebagian besar masih bertumpu pada sektor pertanian.
Selain beras dan daging ayam, Ciamis juga memiliki komoditas kopi yang menjadi salah satu potensi unggulan daerah.
“Robusta maupun Arabika semuanya tumbuh subur di Kabupaten Ciamis. Sudah ekspor walaupun dalam partai kecil,” kata Herdiat.
Herdiat juga menyampaikan perkembangan pelaksanaan MBG di wilayahnya. Hingga saat ini, tercatat 199 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Ciamis.
Namun, jumlah tersebut belum seluruhnya beroperasi.
“Yang ditutup satu SPPG dan menunggu operasional ada 18 SPPG,” ujarnya.
Data tersebut menunjukkan bahwa perluasan pelaksanaan MBG di Ciamis masih berjalan, sekaligus membutuhkan pengawasan agar operasional dan distribusi makanan bergizi dapat berlangsung sesuai ketentuan.
TPK Jadi Ujung Tombak Pengawasan di Keluarga
Khusus untuk kelompok 3B, keterlibatan TPK menjadi penting karena sasaran program berada pada kelompok yang membutuhkan perhatian gizi secara khusus.
Ibu hamil dan ibu menyusui membutuhkan asupan gizi yang memadai, sementara balita berada pada fase penting pertumbuhan dan perkembangan.
Dengan berada langsung di tingkat keluarga, kader TPK diharapkan tidak hanya membantu menemukan sasaran, tetapi juga ikut memastikan program benar-benar diterima oleh penerima manfaat.
Pesan yang dibawa pemerintah pun semakin jelas: keberhasilan MBG tidak cukup diukur dari banyaknya makanan yang disalurkan, tetapi juga dari ketepatan sasaran dan manfaat yang diterima keluarga.
Di titik inilah TPK diharapkan menjadi penghubung antara kebijakan pemerintah dan kondisi nyata di lapangan—memastikan program yang dirancang dari pusat benar-benar sampai ke meja makan keluarga yang menjadi sasaran.
(Iday)





