Puluhan Rumah Warga Desa Pranggong Kerap Terendam Banjir, Warga Keluhkan Minimnya Respons Pemerintah
Buletin News.id
INDRAMAYU || Kondisi memprihatinkan dialami puluhan warga Desa Pranggong, Kecamatan Arahan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Rumah-rumah warga di beberapa blok kerap terendam air akibat meluapnya saluran sekunder dan Kali Maja yang mengarah ke jalur perbatasan Kecamatan Cantigi Kabupaten Indramayu, Senin (19/01/2026).
Luapan air tersebut diduga kuat disebabkan oleh tersumbatnya aliran air dari tutupan Lampah hingga tutupan Tambak. Sepanjang aliran kali dipenuhi eceng gondok hingga badan sungai nyaris tak terlihat. Kondisi serupa juga terjadi pada saluran air sekunder yang membentang dari depan Kantor Desa Cidempet hingga tutupan Blok Kalen Paluh, Desa Pranggong. Ironisnya, saluran sekunder tersebut diketahui baru selesai dibangun.
Wilayah paling terdampak berada di Blok RT 07 hingga RT 09 yang terhimpit dua saluran air besar, yakni Kali Jalur Cipelang dan saluran sekunder. Posisi rumah warga yang berada di tengah-tengah dua saluran tersebut membuat air dengan cepat meluap dan masuk ke pemukiman saat debit air meningkat. Meski kejadian ini telah berulang kali terjadi, hingga kini warga menilai belum ada solusi konkret dari pemerintah desa maupun pihak PU Pengairan setempat.

Salah seorang tokoh masyarakat, Dongol (51), yang rumahnya kerap tergenang air, menyampaikan keluhannya kepada wartawan pada Minggu, 18 Januari 2026. Ia mengaku hidup dalam ketakutan setiap kali air meluap, terutama pada malam hari.
“Saya dan anak-anak serasa tinggal di bantaran kali. Rumah kami berkali-kali terendam. Yang paling saya takutkan itu aliran listrik. Kabel listrik di rumah terendam air, kalau sampai bocor bisa menyetrum saya sekeluarga,” ungkap Dongol.
Ia mengaku telah menyampaikan keluhan tersebut kepada Ketua RT 07 agar diteruskan kepada Kuwu Desa Pranggong, Sayripudin, supaya turun langsung melihat kondisi warga yang terdampak luapan air. Dongol juga mengusulkan agar jalan di depan rumah warga sepanjang lebih dari satu kilometer dibangun menggunakan beton (ready mix).
“Kalau jalannya dibeton, saya yakin air tidak akan melampaui jalan dan masuk ke rumah warga,” tambahnya.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh sesepuh petani setempat, H. Camut. Ia mengatakan bahwa selama puluhan tahun menjadi petani, kondisi saluran irigasi di Desa Pranggong dulu jauh lebih tertata.
“Dulu menjelang musim tanam, air bisa diatur. Mau dibuang cepat, mau diambil juga gampang. Sekarang bangunan sekundernya memang bagus karena dicor beton, tapi sering meluap ke sawah bahkan ke rumah warga karena jarang ada pintu air dan tidak ada saluran pembuang (semurub),” jelasnya.
Menurut H. Camut, kondisi tersebut sangat merugikan para petani dan warga. Ia meminta Pemerintah Desa Pranggong, khususnya perangkat yang membidangi pertanian (Raksa Bumi), agar turun langsung ke lapangan.
“Tolong keliling, jangan pakai sepatu. Lihat langsung petani dan warga. Jangan hanya di kantor saja. Setahu kami, tugas Raksa Bumi itu mendampingi petani,” tegasnya.
Sementara itu, tim media berupaya menghubungi Kuwu Desa Pranggong melalui pesan WhatsApp, namun tidak mendapatkan respons. Upaya konfirmasi juga dilakukan dengan mendatangi Lurah Sono untuk menyampaikan bahwa awak media ingin meminta klarifikasi dari Kuwu Desa Pranggong. Namun pihak kelurahan menyatakan belum mendapat jawaban terkait kesediaan Kuwu untuk ditemui.
Hingga berita ini diturunkan, Kuwu Desa Pranggong belum memberikan keterangan resmi dan enggan menemui awak media.
(AB)





