Spanduk “Shut Up KDM” Gegerkan GBLA, Suporter Soroti Isu Politisasi Persib
Buletin News.id
Bandung || Atmosfer panas menyelimuti (GBLA) saat laga antara melawan pada April 2026. Namun, bukan hanya tensi pertandingan yang menjadi perhatian. Sebuah spanduk raksasa bertuliskan “SHUT UP KDM” mencuri sorotan publik dan dengan cepat viral di media sosial.
Aksi tersebut diduga sebagai bentuk akumulasi kekecewaan sebagian Bobotoh terhadap , yang kini menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat. Para suporter menilai adanya kecenderungan politisasi di sekitar klub kebanggaan mereka, sesuatu yang mereka anggap telah melampaui batas.

Sepak Bola atau Arena Politik?
Bagi kelompok suporter yang membentangkan spanduk, stadion seharusnya menjadi ruang murni untuk mendukung tim, bukan panggung bagi kepentingan politik. Mereka menolak keras segala bentuk pencitraan yang memanfaatkan popularitas klub.
Seorang suporter yang enggan disebutkan namanya menyampaikan, “Kami ingin Persib tetap menjadi identitas olahraga, bukan alat untuk kepentingan politik, baik sekarang maupun menuju agenda tertentu di masa depan.”
Pro dan Kontra di Dunia Maya
Tak butuh waktu lama, aksi ini memicu perdebatan sengit di media sosial. Netizen terbelah menjadi dua kubu:
Di satu sisi, pendukung aksi menilai bahwa kritik tersebut sah sebagai bentuk kepedulian suporter terhadap independensi klub. Mereka khawatir jika dibiarkan, Persib dapat kehilangan jati diri dan menjadi alat kepentingan elit.
Di sisi lain, pihak yang membela Dedi Mulyadi menganggap spanduk tersebut berlebihan dan tidak pantas. Mereka berpendapat bahwa perhatian seorang kepala daerah terhadap klub lokal adalah hal wajar dan bisa berdampak positif bagi perkembangan olahraga di Jawa Barat.
Ujian Independensi Persib
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi baik dari manajemen Persib maupun dari pihak Dedi Mulyadi terkait insiden tersebut. Namun, pesan yang disampaikan dari tribun GBLA cukup jelas: sebagian Bobotoh menginginkan klub mereka tetap berdiri independen, jauh dari tarik-menarik kepentingan politik.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa sepak bola bukan sekadar permainan di lapangan, tetapi juga ruang ekspresi sosial yang sensitif terhadap isu-isu di sekitarnya. Pertanyaannya kini, apakah aksi tersebut merupakan bentuk keberanian menjaga integritas klub, atau justru provokasi yang berisiko memperkeruh suasana?
(Ki PR)





