Setelah 4 Tahun Vakum,Cahaya Galuh Kembali Menyala, Gebyar Nyiar Lumar 2026 Hidupkan Kembali Tradisi di Kawali Ciamis
Buletin News.id
Ciamis, -|| Ribuan warga, seniman, dan pengunjung dari berbagai daerah memadati kawasan Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, pada Sabtu, 5 September 2026. Antusiasme luar biasa itu menyambut kembalinya perhelatan seni budaya Nyiar Lumar 2026, tradisi yang sempat terhenti selama empat tahun dan kini kembali dengan kemeriahan lebih besar.
Makna Nyiar Lumar, Mencari Cahaya Leluhur
Nyiar Lumar adalah perhelatan seni dan budaya yang menjadi ruang perjumpaan antargenerasi untuk mengenalkan kekayaan sejarah Kerajaan Galuh. Kata Nyiar berarti mencari, dan Lumar merujuk pada jamur bercahaya, sebuah simbol pencarian kembali cahaya warisan leluhur yang sempat redup.
Kegiatan ini bertujuan merawat ingatan sejarah, menjaga identitas budaya daerah, serta mempererat kebersamaan masyarakat melalui kesenian tradisional. Rangkaian acara dimulai sore hari di halaman Kantor Kecamatan Kawali, berlanjut dengan kirab menuju Situs Astana Gede Kawali, dan berlangsung hingga menjelang tengah malam dengan suasana sakral dan penuh makna.
Dihadiri Pejabat Pusat Hingga Tokoh Adat
Kehadiran berbagai elemen pemerintah, lembaga budaya, dan tokoh masyarakat menegaskan pentingnya perhelatan ini. Hadir dalam kegiatan tersebut Staf Khusus Menteri Kebudayaan RI, Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat, Bupati Ciamis Herdiat Sunarya, Sekda Kabupaten Ciamis, Kepala Disbudpora, Kasatpol PP, jajaran Kepala OPD Pemkab Ciamis, unsur Forkopimda dan Forkopimcam Kawali, Camat Kawali, Direktur Perumdam Tirta Galuh, tokoh masyarakat dan tokoh adat Kawali, Linda Praja pemilik Yayasan Putri Praja Mandiri, perwakilan tamu kehormatan Bapak Budi, serta tokoh budaya, seniman lintas daerah, siswa SMKN 1 Kawali, dan ribuan warga.
Ketua Pelaksana Nyiar Lumar 2026, Ocay Rosyadi, mengungkapkan rasa syukur atas dukungan semua pihak yang mendedikasikan energi tanpa pamrih.
“Nyiar Lumar bukan sekadar pentas seni, tetapi jembatan antargenerasi untuk mengenalkan kekayaan sejarah Galuh di masa silam. Ini persembahan dari seniman Kawali dan sekitarnya,” ujar Ocay.
Dari Debus, Kirab Obor hingga Perang Bubat dan Ronggeng Gunung
Rangkaian acara dibuka dengan penampilan seni lintas generasi. Atraksi Debus oleh Pak Peno dan rombongan budayawan Kabupaten Ciamis paling menyita perhatian, memancarkan kekuatan fisik sekaligus nilai spiritual kearifan lokal. Alunan musik dari siswa SMKN 1 Kawali turut membuka suasana kebersamaan.
Memasuki malam, Bupati Ciamis Herdiat Sunarya menyalakan obor secara simbolis. Rombongan dan ribuan peserta kemudian melakukan kirab obor menuju Situs Astana Gede dengan iringan kesenian tradisional dalam suasana khidmat. Sesampainya di lokasi, prosesi budaya digelar sebagai penghormatan kepada leluhur.
Puncak acara ditandai dengan penampilan sosiodrama kolosal Perang Bubat yang mengangkat kisah bersejarah Nusantara, dan ditutup dengan penampilan Ronggeng Gunung oleh Bi Raspi yang memukau ribuan penonton.
Nyiar Lumar 2026 menjadi bukti bahwa sejarah tidak boleh berhenti menjadi cerita. Cahaya warisan leluhur yang sempat redup selama empat tahun kini kembali menyala lebih terang, diterangi antusiasme warga yang mencintai budaya dan sejarah daerahnya.
(Yana Kurniawan)





