Nyangku Panjalu 2026: Kirab dan Pencucian Pusaka Jadi Puncak Tradisi di Ciamis
Buletin News.id
Ciamis, || Nyangku Panjalu 2026 dijadwalkan mencapai puncaknya di Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Senin, 7 September 2026. Tradisi tahunan ini berpusat pada kirab serta pencucian benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan Panjalu yang selama ini disimpan di Bumi Alit.
Pemerintah Desa Panjalu mencantumkan prosesi pengeluaran pusaka mulai sekitar pukul 07.30 WIB, sedangkan rangkaian pencucian pusaka di kawasan Taman Borosngora dijadwalkan berlangsung sekitar pukul 09.30 WIB. Puncak acara bertepatan dengan 25 Rabiul Awal 1448 Hijriah.
Kirab Pusaka Dimulai dari Bumi Alit
Rangkaian Nyangku secara tradisional dimulai dengan mengeluarkan benda-benda pusaka dari Pasucian Bumi Alit. Upacara Nyangku adalah rangkaian prosesi adat penyucian benda-benda pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora.
Pusaka kemudian dibawa dalam kirab menuju kawasan Situ Lengkong dan Pulau Nusa Gede sebelum kembali menuju Taman Borosngora. Rangkaian juga mencakup ziarah ke makam leluhur Panjalu di Nusa Gede.
Sejumlah pusaka yang dibawa antara lain pedang, cis, keris, bangreng, dan gong. Dalam tradisinya, benda-benda pusaka yang dimandikan, antara lain, pedang zulfikar, keris pancaworo, bangreng, goong kecil, cis, keris komando, dan trisula.

Pencucian Pusaka Jadi Prosesi Inti
Pencucian menjadi bagian utama Nyangku Panjalu 2026. Benda pusaka dibersihkan dengan menggunakan air suci dan dibersihkan menggunakan jeruk nipis, yang dipercaya menghilangkan karat.
Prosesi penyucian menggunakan air dari sembilan mata air yang dianggap keramat. Setelah disucikan, semua benda pusaka dibungkus rapih oleh kain berwarna putih, yang melambangkan kesucian, sebelum dikembalikan ke tempat penyimpanannya di Bumi Alit.
Tradisi Tahunan Masyarakat Panjalu
Upacara Adat Nyangku merupakan tradisi yang telah dijalankan masyarakat Panjalu secara turun-temurun.
Kepala Dinas Budpora Ciamis, Dian Budiyana, menjelaskan Nyangku berkaitan dengan penghormatan terhadap pusaka leluhur Panjalu sekaligus peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Pelaksanaannya secara tradisional berlangsung pada Senin atau Kamis terakhir pada bulan Maulud atau Rabiul Awal.
Tradisi tersebut berkaitan erat dengan sejarah Prabu Sanghyang Borosngora yang dipercaya sebagai penyebar agama Islam pertama di wilayah Panjalu Ciamis. Benda-benda pusaka disimpan di Bumi Alit dan dikelola bersama sesepuh, keturunan Kerajaan Panjalu, dan masyarakat.
Rangkaian jelang puncak telah dimulai sepekan sebelumnya melalui Tradisi Samida, disusul kegiatan kesenian, budaya, pengajian, serta doa bersama.
Bagi masyarakat yang akan menyaksikan, Pemerintah Desa Panjalu mengimbau untuk datang lebih awal karena kepadatan diperkirakan terjadi di sekitar lokasi acara. Perubahan jadwal akibat kondisi darurat atau cuaca ekstrem akan diumumkan melalui kanal resmi desa.
(Yana Kurniawan)





