Haul Akbar ke-140 Kanjeng Perbu Digelar di Keraton Selagangga, Santuni 50 Anak Yatim dan Perkuat Pelestarian Budaya Galuh

Haul Akbar ke-140 Kanjeng Perbu Digelar di Keraton Selagangga, Santuni 50 Anak Yatim dan Perkuat Pelestarian Budaya Galuh

Buletin News.id

CIAMIS ||  Peringatan Haul Akbar ke-140 Kanjeng Perbu Raden Adipati Arya Koesoemadiningrat di Keraton Selagangga, Kabupaten Ciamis, Minggu (18/10/2026), bukan sekadar seremoni mengenang leluhur. Momentum ini menjadi pengingat pentingnya menjaga warisan sejarah, merawat nilai-nilai budaya, serta meneruskan perjuangan membangun Tatar Galuh yang lebih baik, berbudaya, dan beradab.

Mengusung tema “Meneruskan Perjuangan Kanjeng Perbu Membangun Tatar Galuh Lebih Baik, Lebih Berbudaya, dan Lebih Beradab”, kegiatan tersebut menegaskan bahwa penghormatan terhadap leluhur semestinya tidak berhenti pada tradisi tahunan, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.

Haul yang berlangsung di lingkungan Keraton Selagangga itu dihadiri perwakilan kerajaan dari sejumlah daerah, di antaranya Bali, Kalimantan, Sumatra, dan Palembang. Kehadiran mereka menjadi ruang silaturahmi lintas daerah sekaligus mempererat hubungan sejarah dan kebudayaan yang telah menjadi bagian dari kekayaan Nusantara.

Penanggung jawab kegiatan, Raden Koko Koswara, mengatakan bahwa penyelenggaraan haul memiliki makna lebih luas daripada sekadar mengenang perjalanan hidup dan jasa leluhur. Menurutnya, kegiatan ini menjadi sarana untuk memperkuat tradisi, menanamkan nilai-nilai budaya, serta menumbuhkan kepedulian sosial di tengah masyarakat.

“Melalui haul ini, kita ingin meneruskan perjuangan Kanjeng Perbu dalam membangun Tatar Galuh yang lebih baik, lebih berbudaya, dan lebih beradab,” demikian semangat yang diusung dalam peringatan tersebut.

Bukan Sekadar Mengenang Leluhur, Kepedulian Sosial Jadi Wujud Nyata

Rangkaian kegiatan haul diisi dengan pembacaan Surah Yasin dan tawasulan sebagai bentuk doa serta penghormatan kepada leluhur.

Namun, nilai penting kegiatan ini juga tercermin melalui aksi sosial. Sebanyak 50 anak yatim piatu dari masyarakat sekitar dan sejumlah yayasan di wilayah Ciamis menerima santunan. Bantuan juga disalurkan kepada pondok pesantren sebagai bentuk kepedulian terhadap pendidikan keagamaan.

Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian tradisi dapat berjalan beriringan dengan penguatan solidaritas sosial. Warisan leluhur tidak hanya dijaga melalui ritual dan simbol sejarah, tetapi juga melalui kepedulian terhadap kelompok masyarakat yang membutuhkan serta dukungan terhadap lembaga pendidikan keagamaan.

Di tengah perubahan zaman, nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap tradisi menjadi modal penting untuk menjaga identitas budaya masyarakat Tatar Galuh.

Keraton dan Budayawan Didorong Jadi Penggerak Kebudayaan

Raden Koko Koswara berharap para budayawan dan pengelola keraton dapat terus mengambil peran strategis sebagai barometer pelestarian budaya. Menurutnya, keberadaan keraton tidak hanya penting sebagai penanda sejarah, tetapi juga harus mampu menjadi ruang hidup bagi tradisi, pengetahuan, dan nilai-nilai kebudayaan yang diwariskan lintas generasi.

Ia juga berharap kegiatan kebudayaan di Tatar Galuh semakin berkembang dan mampu menarik perhatian komunitas, paguyuban, serta pemerhati budaya dari berbagai daerah.

“Harapannya, kegiatan budaya di Tatar Galuh ini bisa menjadi magnet bagi wilayah lain, termasuk paguyuban dan komunitas, sehingga kebudayaan daerah tetap hidup dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.

Harapan tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi para pemangku kepentingan kebudayaan di Ciamis. Pelestarian budaya membutuhkan lebih dari sekadar peringatan seremonial; diperlukan kesinambungan kegiatan, keterlibatan generasi muda, serta ruang bagi masyarakat untuk mengenal dan mempraktikkan tradisi secara berkelanjutan.

Menjaga Warisan Sejarah, Membangun Masa Depan Galuh

Haul Akbar ke-140 Kanjeng Perbu Raden Adipati Arya Koesoemadiningrat menjadi momentum untuk meneguhkan kembali hubungan antara sejarah, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat Ciamis.

Di Keraton Selagangga, penghormatan kepada leluhur berpadu dengan doa, silaturahmi lintas daerah, santunan anak yatim, dan dukungan terhadap pondok pesantren. Rangkaian tersebut memberikan pesan bahwa nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu perlu diterjemahkan ke dalam tindakan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat masa kini.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pelestarian budaya bukan hanya seberapa meriah sebuah peringatan diselenggarakan, melainkan sejauh mana nilai-nilai luhur tetap hidup, diwariskan kepada generasi muda, dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Semangat meneruskan perjuangan Kanjeng Perbu pun diharapkan tidak berhenti setelah rangkaian haul berakhir. Lebih dari itu, semangat tersebut menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga identitas Tatar Galuh sekaligus membangun masyarakat yang berbudaya, beradab, dan memiliki kepedulian sosial yang kuat.

(Iday)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *