Permintaan Karet Gir Motor dari Ban Bekas Melonjak, Perajin Ciamis Kewalahan Hadapi Kelangkaan Bahan Baku
Buletin News id
CIAMIS ||Â Usaha kerajinan suku cadang sepeda motor berbahan limbah ban bekas di wilayah Kecamatan Jatinagara dan Kecamatan Rajadesa, Kabupaten Ciamis, terus menunjukkan geliat positif. Permintaan pasar terhadap karet gir atau karet terombol motor hasil produksi rumahan tersebut semakin meningkat, bahkan telah menembus pasar luar Pulau Jawa.
Produk yang dibuat secara manual oleh para perajin industri rumahan (home industry) ini diminati konsumen dari berbagai daerah, mulai dari Lampung, Papua, Jawa Timur hingga sejumlah wilayah lain di Indonesia.
Namun, di balik meningkatnya permintaan pasar, para perajin justru menghadapi persoalan serius. Ketersediaan bahan baku berupa ban bekas kendaraan, khususnya ban mobil dan truk, semakin sulit diperoleh. Kondisi tersebut membuat kapasitas produksi tidak mampu sepenuhnya mengimbangi pesanan konsumen.
Salah seorang perajin asal Kecamatan Jatinagara, Koswara (47), mengungkapkan bahwa tingginya permintaan sebenarnya menjadi peluang besar bagi perkembangan usaha yang digelutinya. Sayangnya, keterbatasan bahan baku kerap menjadi penghambat utama.
Menurut Koswara, untuk mendapatkan satu buah ban bekas mobil truk, para perajin kini harus merogoh kocek sekitar Rp30.000, bahkan bisa menembus Rp40.000 per buah.
“Permintaan barang cukup banyak, tetapi terkadang tidak semuanya bisa terpenuhi karena bahan baku semakin sulit dicari. Kami terpaksa membeli ban bekas dengan harga lebih tinggi agar produksi tetap berjalan dan pesanan pelanggan bisa dipenuhi,” ungkapnya.
Proses produksi karet gir motor tersebut masih mengandalkan keterampilan tangan dan peralatan pres sederhana. Ban bekas terlebih dahulu dipotong dan diolah, kemudian dicetak menggunakan pisau cetak khusus sesuai ukuran serta bentuk karet gir atau terombol sepeda motor.
Di tengah keterbatasan bahan baku, para perajin tetap berupaya menjaga kualitas dan memenuhi target pesanan agar usaha mereka terus berjalan.
Pasokan Ban Bekas dari Luar Daerah
Keluhan serupa juga disampaikan Arpan Hadi, salah seorang perajin asal Desa Sirnajaya, Kecamatan Rajadesa.
Ia mengatakan, untuk menjaga kelangsungan produksi, dirinya harus mendatangkan bahan baku dari luar daerah, di antaranya Majalengka dan Cirebon.
Namun, pasokan dari kedua daerah tersebut tidak selalu lancar. Bahkan, meskipun pemesanan telah dilakukan dengan jadwal pengiriman sekitar satu minggu sekali, bahan baku terkadang terlambat datang atau justru kosong.
“Kadang barang datang terlambat. Padahal kami sudah pesan untuk dikirim setiap minggu. Namun, terkadang stoknya memang sedang kosong,” ujarnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa keberlangsungan usaha kerajinan karet gir motor di wilayah Jatinagara dan Rajadesa masih sangat bergantung pada ketersediaan pasokan ban bekas dari luar wilayah.
Hampir Tak Ada Limbah yang Terbuang
Menariknya, usaha pengolahan ban bekas ini tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga memberikan manfaat dari sisi lingkungan.
Sisa potongan bahan hasil produksi ternyata masih memiliki nilai jual. Limbah tersebut kembali dimanfaatkan dan dijual dengan harga sekitar Rp300 per kilogram.
Dengan demikian, hampir tidak ada sisa material produksi yang menumpuk atau terbuang begitu saja. Seluruh bagian bahan yang masih dapat dimanfaatkan memiliki nilai ekonomis bagi para perajin.

Di wilayah Kecamatan Jatinagara dan Rajadesa sendiri, usaha ini berkembang cukup pesat. Bahkan, di sejumlah lingkungan permukiman, satu rumah bisa memiliki empat hingga enam mesin pres untuk memproduksi karet gir motor.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa kerajinan berbahan ban bekas telah berkembang menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat sekaligus menggerakkan ekonomi rumahan.
Konsumen Akui Kualitas dan Ketahanan Produk
Dari sisi pengguna, produk karet gir berbahan ban bekas ini juga mendapat respons positif.
Nana, salah seorang pengguna, mengaku puas dengan ketahanan produk tersebut, terutama ketika digunakan pada sepeda motor yang kerap menempuh perjalanan jauh dan melewati medan pegunungan.
Menurutnya, material karet dari ban bekas memiliki daya tahan yang cukup baik dan tidak mudah aus dalam pemakaian sehari-hari.
“Kalau saya menggunakan kendaraan untuk perjalanan jauh, apalagi melewati medan pegunungan, karet gir dari bahan ban bekas ini cocok. Karetnya tidak cepat aus atau rusak,” ungkap Nana.
Peluang Besar, Perlu Dukungan Pasokan Bahan Baku
Meningkatnya permintaan pasar hingga ke berbagai wilayah Indonesia menjadi bukti bahwa kerajinan karet gir motor asal Ciamis memiliki peluang usaha yang cukup menjanjikan.
Namun, potensi tersebut perlu diimbangi dengan ketersediaan bahan baku yang memadai. Jika persoalan pasokan ban bekas terus berlanjut, bukan tidak mungkin peluang pasar yang semakin terbuka justru sulit dimanfaatkan secara maksimal oleh para perajin.
Diperlukan perhatian dan dukungan berbagai pihak, baik dalam membangun jaringan pemasok bahan baku, memperkuat akses distribusi ban bekas, maupun mendorong pengembangan industri rumahan agar mampu meningkatkan kapasitas produksi.
Sebab, di balik potongan-potongan ban bekas yang selama ini dianggap tidak bernilai, tersimpan peluang ekonomi yang mampu menghidupi banyak keluarga dan menggerakkan roda usaha masyarakat di pelosok Kabupaten Ciamis.
(Li2/Tn)





