Pasar Buhun Jadi Penutup Home Stay MI Al-Mu’minin Ciamis, Siswa Belajar Budaya Lewat Transaksi Uang Bambu

Pasar Buhun Jadi Penutup Home Stay MI Al-Mu’minin Ciamis, Siswa Belajar Budaya Lewat Transaksi Uang Bambu

Buletin News.id

CIAMIS || Kegiatan Home Stay siswa dan guru MI Al-Mu’minin Ciamis resmi ditutup dengan kunjungan edukatif ke Pasar Buhun, sebuah destinasi wisata budaya yang menghadirkan suasana kehidupan masyarakat tradisional tempo dulu. Kunjungan tersebut menjadi pengalaman istimewa setelah tiga hari peserta mengikuti rangkaian kegiatan pembelajaran dan pengenalan kehidupan masyarakat lokal.

Pasar Buhun yang sengaja dibuka untuk menyambut rombongan wisatawan anak-anak dan guru MI Al-Mu’minin Ciamis itu menawarkan pengalaman berbeda. Mulai dari suasana alam yang sejuk, desain kawasan pasar bernuansa tradisional, hingga sistem transaksi unik yang menggunakan alat tukar berbahan bambu bernama Wilah Awi.

Kepala MI Al-Mu’minin Ciamis, Lisnawati, S.Pd.I., mengungkapkan bahwa suasana Pasar Buhun memberikan pengalaman tersendiri bagi para siswa maupun guru.

Menurutnya, nuansa alam yang masih asri dipadukan dengan tata ruang pasar tradisional yang menggambarkan kehidupan masa lampau menjadi daya tarik yang sulit ditemukan dalam aktivitas sehari-hari.

“Suasananya sangat berbeda. Anak-anak bisa merasakan langsung suasana alam yang sejuk dengan desain pasar tradisional yang benar-benar membawa kita seperti berada di zaman dahulu,” ungkap Lisnawati.

Salah satu daya tarik paling unik di Pasar Buhun adalah sistem transaksi menggunakan mata uang khusus berbahan bambu yang disebut Wilah Awi.

Dalam sistem tersebut, satu batang Wilah Awi memiliki nilai setara Rp2.500. Pengunjung dapat menukarkan uang Rp10.000 menjadi empat batang Wilah Awi untuk digunakan berbelanja di kawasan pasar.

Dengan demikian, anak-anak tidak hanya menikmati makanan dan membeli berbagai mainan tradisional, tetapi juga belajar memahami konsep nilai tukar, menghitung uang, serta melakukan transaksi secara langsung.

Menariknya, apabila pengunjung masih memiliki sisa Wilah Awi, uang tersebut dapat ditukarkan kembali ke rupiah sesuai nilai nominalnya. Sistem ini membuat anak-anak bisa belajar bertransaksi tanpa khawatir kehilangan nilai uang yang mereka miliki.

Pengalaman tersebut dirasakan langsung oleh salah seorang siswa, Depran. Ia mengaku senang dapat berbelanja menggunakan alat tukar yang berbeda dari uang rupiah yang biasa digunakan sehari-hari.

Depran juga mengaku mendapatkan pengalaman baru karena harus memahami nilai setiap batang Wilah Awi sebelum melakukan pembelian.

“Saya senang, bisa belanja makanan dan mainan menggunakan uang bambu. Teman-teman juga ikut jajan dan menikmati makanan yang ada di pasar ini. Rasanya menarik karena cara belanjanya berbeda,” ungkap Depran.

Antusiasme para siswa terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Kepala MI Al-Mu’minin menyampaikan rasa syukur karena seluruh rangkaian kegiatan selama tiga hari berjalan lancar, seluruh anak mengikuti kegiatan dengan penuh semangat, dan kondisi peserta tetap sehat.

Pemandu Wisata Budaya Bambu Uji Hasil Pelatihan

Di balik suksesnya kegiatan tersebut, terdapat peran para pemandu wisata budaya bambu Gunung Gede, Desa Purwaraja, yang menjadi bagian penting dalam pelaksanaan kegiatan Live In selama tiga hari.

Ijki, salah seorang pemandu wisata budaya bambu, mengatakan bahwa kegiatan tersebut menjadi pengalaman sekaligus ajang pembuktian kemampuan para pemandu setelah sebelumnya mengikuti proses pembekalan, teori, dan latihan praktik.

Menurutnya, sekitar satu tahun sebelumnya para pemandu telah menjalani proses peningkatan kapasitas melalui pembelajaran teori dan praktik bersama para pemandu lokal. Kegiatan selama tiga hari bersama siswa MI Al-Mu’minin menjadi kesempatan untuk mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari.

“Alhamdulillah, kegiatan selama tiga hari berjalan lancar. Ini menjadi pengalaman luar biasa bagi kami karena ilmu yang sebelumnya dipelajari melalui teori dan latihan praktik akhirnya bisa diaplikasikan secara langsung di lapangan,” ujar Ijki.

Ia mengakui, mendampingi wisatawan anak-anak memiliki tantangan tersendiri. Dibutuhkan pola komunikasi, pengaturan ritme kegiatan, serta pendekatan khusus agar anak-anak dapat mengikuti setiap agenda dengan nyaman.

Karena itu, pihaknya telah memberikan pemahaman kepada rekan-rekan pemandu untuk menerapkan ritme pendampingan yang berbeda ketika menghadapi peserta anak-anak.

Meski terdapat sejumlah tantangan dalam proses pendampingan, seluruhnya dapat dikondisikan dengan baik.

“Kami juga masih dalam proses belajar. Semua pengalaman ini menjadi bahan evaluasi sekaligus pembelajaran berharga bagi kami untuk meningkatkan kemampuan dalam memberikan pelayanan wisata budaya,” tambahnya.

Wisata Budaya yang Menghadirkan Pembelajaran Nyata

Penutupan kegiatan Home Stay MI Al-Mu’minin Ciamis melalui kunjungan ke Pasar Buhun bukan sekadar agenda rekreasi. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran nyata bagi anak-anak untuk mengenal budaya lokal, memahami kehidupan tradisional, serta mempraktikkan kemampuan berhitung dan bertransaksi.

Keunikan Wilah Awi sebagai alat tukar juga menunjukkan bahwa tradisi dapat dikemas menjadi pengalaman wisata edukatif yang menarik bagi generasi muda.

Kolaborasi antara lembaga pendidikan dan pengelola wisata budaya seperti ini menjadi salah satu upaya memperkenalkan kearifan lokal kepada anak-anak sejak dini.

Melalui pengalaman selama tiga hari tersebut, para siswa tidak hanya membawa pulang cerita tentang perjalanan wisata, tetapi juga pengalaman berharga tentang budaya, kebersamaan, kemandirian, dan kehidupan masyarakat lokal.

Pasar Buhun pun membuktikan bahwa warisan tradisional tidak harus berhenti sebagai kenangan masa lalu. Dengan pengelolaan dan inovasi yang tepat, budaya dapat dihidupkan kembali menjadi sarana pendidikan sekaligus daya tarik wisata bagi generasi masa kini..

(Li2/Tn)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *