Diduga Dipukul Guru, Siswa SMKN 1 Rajadesa Dilarikan ke Rumah Sakit
Buletin News.id
Ciamis, || Seorang siswa SMKN 1 Rajadesa berinisial RR harus menjalani perawatan medis setelah diduga menerima pukulan dari seorang guru olahraga berinisial MT saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, Kamis (30/7).
Peristiwa tersebut terjadi ketika pelajaran olahraga sedang berlangsung di lingkungan sekolah. Berdasarkan keterangan yang dihimpun, korban mengalami pendarahan pada bagian hidung usai diduga terkena pukulan dari guru yang mengajarnya.
Korban sempat mendapatkan penanganan di Puskesmas Rajadesa. Namun, karena keterbatasan fasilitas medis, pihak puskesmas menyarankan agar korban segera dirujuk ke Rumah Sakit Ciamis untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
siswa yang diduga boyok dipukul di bagian muka
Guru olahraga berinisial MT mengakui telah melakukan pemukulan terhadap siswanya. Menurut pengakuannya, kejadian bermula ketika RR beberapa kali menepuk bagian pundaknya saat pelajaran berlangsung. Meski telah ditegur, siswa tersebut disebut kembali menepuk bagian punggungnya sehingga memicu emosi.
“Saya memang memukul bagian mukanya. Saya kesal, saya melakukan itu. Setelah saya pukul, beberapa menit kemudian memang keluar darah dari hidungnya,” ujar MT.
Sementara itu, wakil kepala bidang kesiswaan SMKN 1 Rajadesa, Susan, S. Pd membenarkan adanya insiden tersebut. Ia mengatakan pihak sekolah bersama sejumlah guru langsung membawa korban ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan.
“Memang benar salah satu siswa mengalami pendarahan pada bagian hidung. Kami bersama guru langsung membawanya ke rumah sakit. Alhamdulillah tidak ada luka yang serius dan, insyaallah, malam ini sudah bisa pulang,” katanya, Kamis (30/07/2026).
Menanggapi kejadian tersebut, Sekretaris Jenderal Lembaga Analisis Kebijakan Publik Kabupaten Ciamis, W. Gunawan, mengecam tindakan kekerasan yang dilakukan oleh tenaga pendidik.
“Guru seharusnya mendidik dengan pendekatan yang bijaksana, bukan dengan kekerasan. Apalagi sampai menyebabkan siswa terluka dan mengeluarkan darah. Kami berharap peristiwa seperti ini tidak terulang kembali,” tegasnya.
Di sisi lain, sejumlah tokoh dan warga di lingkungan sekolah juga menyoroti kondisi kedisiplinan di SMKN 1 Rajadesa. Mereka menilai kepemimpinan kepala sekolah perlu dievaluasi karena dinilai kurang maksimal dalam melakukan pengawasan terhadap aktivitas sekolah.
Beberapa warga sekolah mengaku kepala sekolah disebut jarang berada di sekolah sehingga pengawasan terhadap kedisiplinan siswa dinilai kurang optimal. Mereka juga mengungkapkan masih sering ditemukan siswa yang meninggalkan lingkungan sekolah sebelum jam pelajaran berakhir.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari Kepala SMKN 1 Rajadesa terkait insiden tersebut maupun mengenai berbagai penilaian yang disampaikan oleh sejumlah pihak. Kasus ini diharapkan menjadi bahan evaluasi agar proses pendidikan dapat berlangsung dengan mengedepankan kedisiplinan, komunikasi yang baik, serta bebas dari segala bentuk kekerasan.
(TN)





