Keluhan Berulang Soal MBG, Dapur Penyalur di Ciamis Didorong Segera Dievaluasi
Buletin News.id
Ciamis, || Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kategori B3 di wilayah Kelurahan Linggasari, Kecamatan Ciamis, menuai sorotan setelah sejumlah warga melaporkan dugaan pembagian makanan yang tidak layak konsumsi. Sorotan dugaan tersebut juga mengarah pada dapur penyalur yang disebut-sebut sebagai SPPG Mutiara Sukarsa.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, distribusi MBG pada Kamis (23/4/2026) dilakukan sekaligus untuk kebutuhan tiga hari hingga Sabtu (25/4/2026). Dalam satu paket, penerima manfaat mendapatkan dua kotak susu ukuran 125 ml, potongan kentang, satu buah jeruk, satu buah apel, serta paket nasi berisi nasi, potongan melon, telur gulung, tempe goreng, dan sayuran kukus.
Namun, sejumlah orang tua penerima manfaat mengeluhkan kondisi makanan yang diterima anak-anak mereka dan tidak berani menyampaikan kritikan. Beberapa di antaranya menemukan potongan melon dan apel yang diduga sudah tidak segar dan mengarah pada kondisi membusuk.

Keluhan tersebut kemudian disampaikan kepada Iyang salah satu aktivis senior di Kabupaten Ciamis. Ia menyatakan keprihatinan atas dugaan berulangnya persoalan kualitas makanan dalam program MBG, khususnya yang didistribusikan oleh dapur penyalur terkait.
“Dalam beberapa minggu terakhir, kami menerima laporan serupa, mulai dari telur rebus yang berbau tidak sedap hingga roti yang mendekati masa kedaluwarsa, bahkan ada yang sudah berjamur saat dibagikan. Ini tentu harus menjadi perhatian serius,” ujarnya.
Ia menilai, mekanisme distribusi untuk tiga hari sekaligus semestinya diiringi dengan standar pengelolaan makanan yang lebih ketat, terutama terkait daya tahan dan kualitas bahan pangan. Jika tidak, kondisi tersebut berpotensi menurunkan kualitas gizi bahkan membahayakan kesehatan penerima manfaat.
Selain itu, ia juga menyoroti dugaan ketidaksesuaian jumlah susu dalam paket yang diterima. Untuk alokasi tiga hari, penerima manfaat dilaporkan hanya mendapatkan dua kotak susu, sehingga dinilai tidak proporsional dan perlu penjelasan dari pihak pengelola.
Lebih lanjut, ia mendorong adanya evaluasi menyeluruh terhadap operasional dapur penyalur, termasuk di SPPG Mutiara Sukarsa, mulai dari proses pengadaan bahan baku, pengolahan, hingga distribusi kepada penerima manfaat. Penguatan sistem pengawasan dinilai menjadi kunci agar program berjalan sesuai tujuan.
Di sisi lain, masyarakat diimbau untuk aktif menyampaikan laporan apabila menemukan ketidaksesuaian dalam pelaksanaan program. Partisipasi publik dinilai penting sebagai bagian dari kontrol sosial, sekaligus memastikan program pemerintah benar-benar memberikan manfaat optimal.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola SPPG Mutiara Sukarsa belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan yang disampaikan masyarakat. Upaya konfirmasi masih terus dilakukan untuk memperoleh klarifikasi dan penjelasan berimbang.
Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak. Oleh karena itu, aspek keamanan pangan, kelayakan konsumsi, serta ketepatan distribusi menjadi hal krusial yang harus dijaga dalam setiap tahap pelaksanaannya.
(Ap)





