Pasca Pemasangan U-Ditch, Genangan Air di Situ Buleud Kian Tinggi, Mahesa Jenar: Siapa yang Salah?
Buletin News.id
PURWAKARTA || Proyek pembenahan saluran drainase menggunakan beton U-Ditch (Yudit) di kawasan sekitar Situ Buleud, Purwakarta, yang semula digadang-gadang sebagai solusi penanggulangan banjir, kini justru menuai sorotan tajam. Pasalnya, setelah proyek tersebut rampung, genangan air saat hujan turun dilaporkan semakin tinggi dan membutuhkan waktu lebih lama untuk surut dibandingkan sebelum pengerjaan dilakukan.
Kondisi ini menimbulkan kekecewaan di tengah masyarakat dan memantik kritik keras dari aktivis sosial Purwakarta, Mahesa Jenar. Ia menilai proyek tersebut menunjukkan adanya kegagalan serius, baik dari sisi perencanaan maupun pelaksanaan teknis di lapangan.

“Sangat tidak masuk akal. Anggaran besar digelontorkan untuk memasang U-Ditch dengan tujuan memperlancar aliran air, tetapi fakta di lapangan justru sebaliknya. Hujan sebentar saja, genangan air lebih tinggi dari sebelumnya. Ini bukan kemajuan, tapi kemunduran,” tegas Mahesa Jenar dalam keterangannya, Senin (29/12/2025).
Menurut Mahesa, semakin parahnya genangan air menjadi indikasi kuat adanya kesalahan teknis yang tidak bisa dianggap sepele. Ia menduga persoalan tersebut bisa bersumber dari perhitungan elevasi saluran yang tidak tepat, dimensi U-Ditch yang tidak sesuai dengan debit air, hingga buruknya konektivitas antar saluran drainase.
“Pertanyaannya sederhana namun mendasar: siapa yang salah?” ujar Mahesa.
Ia pun merinci sejumlah pihak yang dinilainya perlu dimintai pertanggungjawaban. Pertama, konsultan perencana yang bertugas melakukan survei awal dan perhitungan teknis. Mahesa mempertanyakan apakah analisis debit air dan kondisi eksisting sudah dilakukan secara akurat. Kedua, kontraktor pelaksana yang mengerjakan proyek di lapangan. Ia menyoroti kemungkinan pemasangan yang tidak sesuai spesifikasi teknis atau dilakukan secara asal demi mengejar target waktu. Ketiga, dinas terkait maupun pihak pengawas proyek, yang dinilai lalai dalam menjalankan fungsi pengawasan.
“Di mana pengawasannya? Bagaimana mungkin pekerjaan yang hasilnya justru memperparah genangan bisa lolos dan diterima?” katanya.
Mahesa juga menegaskan bahwa masyarakat Purwakarta tidak boleh terus menjadi pihak yang dirugikan. Selain harus menghadapi kemacetan dan gangguan aktivitas selama proses pengerjaan proyek, warga kini dihadapkan pada risiko banjir yang lebih parah.
“Jangan sampai masyarakat dirugikan dua kali. Proyek ini seharusnya memberi manfaat, bukan menambah masalah,” tambahnya.
Ia mendesak Pemerintah Kabupaten Purwakarta, khususnya dinas teknis terkait, untuk segera turun langsung ke lapangan guna melakukan audit teknis dan evaluasi menyeluruh terhadap proyek drainase tersebut. Mahesa menekankan pentingnya transparansi dan tanggung jawab, serta menolak adanya upaya saling lempar kesalahan.
“Kami menuntut perbaikan segera. Jika perlu dibongkar, bongkar. Perbaiki elevasinya, perbaiki sistemnya. Jangan biarkan ikon Purwakarta, Situ Buleud, berubah menjadi kolam genangan setiap kali hujan turun hanya karena ketidakbecusan teknis,” pungkas Mahesa Jenar.
(De/Tim)





