Kemarau Berkepanjangan, Warga Rajadesa Serentak Gelar Salat Istisqa

Kemarau Berkepanjangan, Warga Rajadesa Serentak Gelar Salat Istisqa

Buletin News.id

CIAMIS || Kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah Kecamatan Rajadesa, Kabupaten Ciamis, mulai berdampak serius terhadap ketersediaan air bersih. Di tengah kondisi tersebut, warga di sejumlah desa serentak melaksanakan salat istisqa pada Senin (5/10), memanjatkan doa agar hujan segera turun dan kekeringan berakhir.

Pantauan Buletin News, pelaksanaan salat istisqa digelar di sejumlah lokasi berbeda di masing-masing desa. Di antaranya, warga Desa Rajadesa melaksanakan salat istisqa di Lapangan Bola Wirabaya Rajadesa, warga Desa Sirnajaya di Lapangan Bola Cibulakan, sedangkan warga Desa Tanjungsukur melaksanakannya di kawasan Puncak Otoya.

Pelaksanaan salat istisqa tersebut dilakukan secara serentak sebagai bentuk ikhtiar masyarakat menghadapi kemarau yang berkepanjangan. Kekeringan yang terjadi bahkan telah menyebabkan sebagian wilayah mengalami kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk memasak, mencuci, dan mandi.

Kondisi tersebut memaksa sebagian warga mencari alternatif sumber air. Ada warga yang memanfaatkan aliran sungai dengan cara membendung sebagian alirannya agar air dapat ditampung dan digunakan untuk keperluan mencuci maupun mandi.

Situasi ini menjadi gambaran betapa panjangnya dampak kemarau yang dirasakan masyarakat Rajadesa. Persoalan air tidak lagi sebatas berkurangnya debit sumber mata air, tetapi telah menyentuh kebutuhan dasar warga dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Dalam pelaksanaan salat istisqa, warga bersama para tokoh agama dan unsur Majelis Ulama Indonesia (MUI) di masing-masing wilayah memanjatkan doa kepada Allah SWT agar hujan segera diturunkan.

Doa juga dipanjatkan agar tanah yang selama ini mengalami kekeringan kembali mendapatkan kesuburan sehingga masyarakat dapat kembali mengolah lahan pertanian mereka.

Selain berharap turunnya hujan, masyarakat juga berharap seluruh sumber mata air yang selama musim kemarau mengalami penyusutan dapat kembali mengalir dan memenuhi kebutuhan warga.

Salat istisqa menjadi ikhtiar spiritual masyarakat Rajadesa di tengah tekanan kekeringan yang semakin dirasakan. Di balik doa yang dipanjatkan bersama, terselip harapan sederhana warga: hujan segera turun, sumber air kembali tersedia, lahan kembali dapat digarap, dan kehidupan sehari-hari kembali berjalan normal.

(Li2/Ton)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *