Ribuan Jemaah Tasikmalaya Bersholawat Bawa Berkah bagi Pedagang Kecil dan UMKM di Manonjaya
Buletin News id
TASIKMALAYA || Kegiatan Tasikmalaya Bersholawat di Alun-Alun Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (13/10/2026), tak hanya menjadi momentum religi bagi ribuan jemaah. Keramaian acara tersebut juga membawa berkah ekonomi bagi para pedagang kecil dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mengais rezeki di sekitar lokasi kegiatan.
Sejak sore hari, para pedagang mulai berdatangan dan menjajakan beragam dagangan. Mulai dari kopi, susu, hingga jajanan seperti sosis bakar, menjadi pilihan bagi jemaah yang datang dari berbagai daerah untuk mengikuti lantunan sholawat bersama.
Di tengah lalu-lalang santri dan anak muda, Dadang, salah seorang pedagang kopi, tampak sibuk melayani pembeli. Ia sengaja datang lebih awal untuk mengambil peluang dari kegiatan yang diperkirakan menarik banyak pengunjung tersebut.
“ Saya datang dari sore lebih awal, karena acara besar seperti ini pasti ramai. Pedagang juga bisa sampai ratusan. Makanya, saya terus berkeliling di sekitar alun-alun untuk menjual kopi, susu, dan dagangan lainnya,” ujar Dadang.
Keramaian Jemaah Jadi Peluang Mencari Nafkah
Bagi Dadang, kegiatan keagamaan dengan jumlah pengunjung yang besar menjadi kesempatan untuk meningkatkan pendapatan. Kehadiran ribuan jemaah membuat peluang dagang terbuka, terutama bagi pedagang yang menawarkan makanan dan minuman.
Ia mengaku bersyukur bisa datang lebih awal sehingga telah mendapatkan penghasilan sebelum acara mencapai puncak keramaian pada malam hari.
“Alhamdulillah, datang dari awal sudah dapat uang lumayan. Apalagi malam hari, ribuan orang pasti memadati Alun-Alun Manonjaya untuk bersholawat,” tuturnya.
Di sela kesibukannya melayani pembeli, Dadang sesekali beristirahat sambil mengikuti lantunan sholawat yang terdengar dari panggung utama.
Baginya, kesempatan berdagang di tengah kegiatan keagamaan memiliki makna tersendiri. Selain memperoleh penghasilan, ia juga dapat merasakan suasana religius bersama para jemaah.
Dadang berharap pendapatan yang diperolehnya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk membiayai anak dan istrinya.
“Alhamdulillah, rezeki yang didapat cukup untuk pulang dan membiayai anak istri. Acara seperti ini banyak berkahnya, apalagi diisi dengan bersholawat,” katanya.

Pedagang Sosis Bakar Ikut Merasakan Dampak Keramaian
Berkah dari Tasikmalaya Bersholawat juga dirasakan pedagang lainnya, termasuk penjual sosis bakar yang memanfaatkan ramainya pengunjung untuk menawarkan dagangan kepada jemaah.
Sejak sore, pembeli dari kalangan orang dewasa hingga anak-anak silih berganti mendatangi lapaknya. Kondisi tersebut memberikan peluang bagi pedagang untuk memperoleh pendapatan selama kegiatan berlangsung.
Pedagang tersebut mengaku akan terus berjualan hingga acara selesai. Meski harus menempuh perjalanan pulang yang cukup jauh karena berasal dari Kota Tasikmalaya, ia tetap bersemangat mencari nafkah.
Baginya, setiap kegiatan yang menghadirkan keramaian, baik berskala besar maupun kecil, merupakan peluang yang patut dimanfaatkan selama bisa menghasilkan pendapatan halal.
Ia berupaya memaksimalkan kesempatan tersebut demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Di Balik Lantunan Sholawat, Ada Perjuangan Menghidupi Keluarga
Ramainya Tasikmalaya Bersholawat memperlihatkan bahwa kegiatan keagamaan juga dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat kecil. Di balik ribuan jemaah yang melantunkan sholawat, terdapat para pedagang yang bekerja keras memanfaatkan momentum untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Bagi mereka, keuntungan yang diperoleh bukan semata-mata soal besarnya pendapatan, melainkan juga tentang keberlangsungan usaha dan kemampuan membawa pulang hasil jerih payah untuk keluarga.
Meski demikian, besarnya dampak ekonomi kegiatan tersebut terhadap pedagang dan UMKM secara keseluruhan masih memerlukan data pendukung, seperti jumlah pedagang, omzet penjualan, dan perbandingan pendapatan sebelum serta selama acara.
Di Manonjaya, Selasa malam itu, lantunan sholawat dan aktivitas perdagangan berjalan berdampingan. Para jemaah mengikuti kegiatan keagamaan, sementara para pedagang terus melayani pembeli, berharap keramaian tersebut menjadi jalan datangnya rezeki yang halal dan berkah bagi keluarga mereka.
(Asjen)





