Peringatan Hari Balita Nasional 2026, Dokter Anak di Ciamis Tekankan Edukasi untuk Tekan Stunting

Peringatan Hari Balita Nasional 2026, Dokter Anak di Ciamis Tekankan Edukasi untuk Tekan Stunting

Buletin News.id

Ciamis || Peringatan Hari Balita Nasional 2026 yang mengusung tema “Balita Sehat, Generasi Hebat: Cegah Stunting, Optimalkan Tumbuh Kembang” menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahan stunting sejak dini.

Hal tersebut disampaikan dalam sebuah podcast yang digelar di RSUD Ciamis, Kamis (16/4/2026), bersama dokter spesialis anak dr. Hj. Suherjati, Sp.A yang akrab disapa “Oma Dokter”. Dalam kesempatan itu, ia menekankan pentingnya edukasi serta perubahan pola pikir masyarakat sebagai kunci utama menekan angka stunting.

Dokter yang telah berpraktik selama lebih dari tiga dekade dan bertugas di RSUD Ciamis sejak 2003 tersebut mengungkapkan, angka stunting di Kabupaten Ciamis masih berada di kisaran 20 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata Jawa Barat yang berada di angka sekitar 15 persen.

“Dengan potensi yang dimiliki, seharusnya Ciamis bisa menekan angka stunting lebih rendah, bahkan di bawah 15 persen. Namun, kita masih menghadapi tantangan dari sisi budaya dan kebiasaan masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu persoalan utama adalah masih rendahnya konsumsi protein hewani pada ibu hamil, ibu menyusui, dan anak usia dini. Ia menyebut masih adanya kepercayaan yang keliru di masyarakat, seperti anggapan bahwa konsumsi ikan dapat berdampak buruk bagi kesehatan ibu.

“Masih ada yang bertanya apakah ibu menyusui boleh makan ikan. Padahal itu sangat penting. Informasi seperti itu tidak benar dan harus diluruskan,” katanya.

Ia menilai kondisi tersebut cukup ironis mengingat Ciamis memiliki potensi sumber pangan yang melimpah, seperti peternakan ayam serta ketersediaan ikan yang mudah dijangkau. Bahkan, banyak rumah tangga memiliki kolam ikan, namun konsumsi ikan masih belum optimal.

“Ini menunjukkan masalahnya bukan pada ketersediaan, tapi pada pola konsumsi dan pemahaman masyarakat,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa peran ibu sangat menentukan dalam tumbuh kembang anak, terutama sejak masa kehamilan hingga menyusui. Hubungan antara ibu dan anak, kata dia, memiliki keterkaitan yang sangat erat dalam aspek kesehatan dan nutrisi.

“Intervensi pencegahan stunting harus dimulai sejak calon ibu, masa kehamilan, hingga masa menyusui. Asupan nutrisi, khususnya protein hewani, sangat berpengaruh,” jelasnya.

Selain itu, peran keluarga, khususnya ibu dan nenek, juga dinilai penting dalam menentukan pola makan anak. Oleh karena itu, edukasi harus terus dilakukan secara berkelanjutan, terutama kepada kelompok usia lanjut yang masih memegang kuat kepercayaan tradisional.

Meski menghadapi berbagai tantangan, ia tetap optimistis angka stunting dapat ditekan apabila didukung dengan kebijakan yang tepat serta edukasi yang masif dan berkelanjutan.

“Indonesia memiliki sumber daya pangan yang sangat melimpah. Tinggal bagaimana kita mengelola dan memberikan edukasi yang tepat kepada masyarakat,” pungkasnya.

(Ape)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *