Salat Istisqo di Tengah Kekeringan, Bupati Ciamis Tekankan Ikhtiar Nyata Jaga Air dan Pertanian
Buletin News.id
CIAMIS – Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Ciamis. Di tengah keterbatasan air, pemerintah tidak hanya mengajak masyarakat memperkuat ikhtiar spiritual melalui Salat Istisqo, tetapi juga menyiapkan langkah konkret untuk menjaga kebutuhan air bersih dan keberlangsungan sektor pertanian.
Pesan itu disampaikan Bupati Ciamis Herdiat Sunarya saat pelaksanaan Salat Istisqo tingkat Kabupaten Ciamis di Alun-Alun Ciamis, Kamis (8/10/2026). Sekitar 5.000 jamaah mengikuti salat tersebut sebagai bentuk ikhtiar bersama memohon turunnya hujan.
Ketua MUI Kabupaten Ciamis KH Saiful Uyun bertindak sebagai khatib, sementara salat dipimpin Ketua MUI Kecamatan Ciamis KH Bukhari Muslim sebagai imam.
Di hadapan ribuan jamaah, Herdiat menegaskan bahwa doa harus berjalan beriringan dengan tindakan nyata. Menurutnya, persoalan kekeringan tidak cukup dihadapi hanya dengan memohon turunnya hujan, tetapi juga membutuhkan kepedulian bersama terhadap lingkungan dan sumber daya air.
“Pada saat yang sama kita juga harus melakukan upaya nyata untuk menjaga lingkungan dan ketersediaan sumber mata air,” ujar Herdiat.
Ia mengajak masyarakat untuk mulai dari hal-hal mendasar, seperti menjaga mata air, memelihara pohon, tidak merusak kawasan hutan, serta menggunakan air secara bijaksana.
Di sisi lain, Herdiat juga mengingatkan masyarakat untuk memperkuat ikhtiar keagamaan dengan meningkatkan ibadah, memperbanyak istighfar dan sedekah. Kepedulian sosial, kata dia, juga penting dengan membantu warga yang terdampak kekeringan.
Pemkab Diminta Bergerak, Air Bersih Jadi Prioritas
Bukan hanya masyarakat yang diminta bergerak. Herdiat menginstruksikan jajaran Pemerintah Kabupaten Ciamis untuk terus melakukan langkah antisipasi dan penanganan terhadap dampak kekeringan.
Fokus utama diarahkan pada pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat serta menjaga agar sektor pertanian tetap berjalan di tengah ancaman berkurangnya ketersediaan air.
Langkah tersebut menjadi penting karena kekeringan tidak hanya menyangkut persoalan kebutuhan rumah tangga, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas pertanian yang menjadi salah satu sektor penting bagi masyarakat.
Dengan demikian, Salat Istisqo di Ciamis tidak sekadar menjadi momentum keagamaan. Kegiatan itu juga menjadi pengingat bahwa persoalan air membutuhkan respons bersama—mulai dari doa, kepedulian terhadap lingkungan, hingga kesiapan pemerintah dalam menangani dampaknya.
Ikhtiar Bersama Memohon Hujan
Ketua Pelaksana Salat Istisqo, Wawan Ruhiyat, mengatakan kegiatan tersebut merupakan hasil koordinasi Pemerintah Kabupaten Ciamis bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kementerian Agama, serta aparat keamanan.
Menurut Wawan, pelaksanaan Salat Istisqo menjadi bagian dari ikhtiar bersama masyarakat Tatar Galuh Ciamis di tengah kondisi kekeringan.
“Kegiatan ini bertujuan memperkuat ikhtiar bersama dengan memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan yang membawa keberkahan, kemaslahatan dan kesejahteraan bagi masyarakat Tatar Galuh Ciamis,” katanya.
Di tengah kemarau, pesan yang mengemuka dari Alun-Alun Ciamis pun menjadi jelas: menunggu hujan tidak cukup hanya dengan berharap. Doa perlu berjalan bersama dengan menjaga air, merawat lingkungan, membantu warga terdampak, dan memastikan pemerintah hadir ketika kebutuhan dasar masyarakat mulai terancam.
(Iday)





