Sumur Mengering akibat Kemarau, Warga Rajadesa Ciamis Bertahan dengan Air Sungai Cipetungan
Buletin News.id
CIAMIS || Kemarau panjang mulai menyulitkan warga di sejumlah wilayah Kabupaten Ciamis untuk mendapatkan air bersih. Sumur-sumur yang selama ini menjadi sumber utama kebutuhan rumah tangga mengering, memaksa sebagian warga beralih ke aliran Sungai Cipetungan untuk mencuci pakaian, membersihkan peralatan rumah tangga, hingga mandi.
Kondisi tersebut terlihat di sejumlah titik aliran Sungai Cipetungan, terutama di kawasan perbatasan Desa Mulyasari dan Desa Sirnajaya, Kecamatan Rajadesa, serta di Kampung Bisoro, Desa Purwaraja. Debit sungai yang terus menyusut membuat warga harus mencari cara agar air yang tersisa tetap bisa dimanfaatkan.
Dengan peralatan seadanya, warga bergotong royong membendung aliran sungai menggunakan bambu dan tanah. Bendungan sederhana itu dibuat untuk menahan air agar terkumpul dan dapat digunakan bersama.
Namun, kondisi sungai tahun ini berbeda dibandingkan musim kemarau sebelumnya. Jika pada tahun-tahun lalu air yang terbendung masih cukup untuk mengairi kolam, kini debitnya sangat kecil dan hanya dapat dimanfaatkan secara terbatas, terutama untuk mencuci pakaian dan peralatan dapur.
Sungai Menyusut, Air Berubah Warna
Aktivitas warga di sepanjang aliran sungai biasanya mulai ramai sekitar pukul 07.00 WIB dan kembali meningkat menjelang waktu Asar. Mereka memanfaatkan titik-titik sungai yang dibendung secara sederhana untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang tidak lagi bisa dipenuhi dari sumur.
Sebagian warga bahkan memasang penyekat sederhana dari bambu dan kain untuk membatasi area penggunaan air. Cara tersebut menjadi salah satu upaya warga menjaga privasi ketika mandi di lokasi terbuka.
Di tengah keterbatasan itu, persoalan lain muncul. Air sungai di beberapa titik terlihat berubah warna dan mengendap karena alirannya sangat lemah.
Camat Rajadesa, H. Nandang Nugraha, S.Sos., mengatakan perubahan warna air kemungkinan berkaitan dengan minimnya aliran sungai serta aktivitas warga yang menggunakan air untuk mencuci.
“Karena air dari hilir ke hulu tidak mengalir, air yang digunakan di sungai bisa tercemar oleh air cucian atau sabun. Air yang dibendung hanya mengendap dan tidak mengalir sehingga warnanya bisa berubah,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya.
Meski menjadi alternatif ketika sumur mengering, kondisi air yang berubah warna patut menjadi perhatian. Air yang tampak keruh atau berubah warna belum tentu aman digunakan, terlebih untuk kebutuhan konsumsi.
Kebutuhan Air Minum Masih Bergantung pada Tetangga
Keterbatasan air tidak hanya berdampak pada aktivitas mandi dan mencuci. Untuk memenuhi kebutuhan memasak dan air minum, sebagian warga terpaksa mengambil air dari saudara atau tetangga yang sumurnya masih mengeluarkan air.

Situasi ini memperlihatkan bahwa persoalan yang dihadapi warga bukan sekadar berkurangnya debit sungai, melainkan juga terbatasnya sumber air bersih yang dapat diandalkan ketika kemarau berlangsung panjang.
Selama ini, Sungai Cipetungan memang kerap menjadi pilihan alternatif warga saat musim kemarau. Pembuatan bendungan sederhana dilakukan secara bergotong royong agar air yang tersisa bisa dimanfaatkan bersama.
Namun, ketika debit sungai semakin kecil, kemampuan sumber air tersebut untuk menopang kebutuhan warga ikut menurun. Air yang sebelumnya masih dapat digunakan untuk mengairi kolam kini hanya cukup untuk kebutuhan tertentu, seperti mencuci pakaian dan peralatan rumah tangga.
Pemerintah Kecamatan Imbau Penghematan Air
Camat Rajadesa, H. Nandang Nugraha, mengimbau masyarakat agar menggunakan air secara hemat selama kondisi kemarau masih berlangsung.
Ia juga menyatakan bahwa pihak kecamatan akan mengupayakan bantuan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ciamis apabila warga benar-benar tidak lagi memiliki persediaan air untuk kebutuhan minum.
“Untuk masyarakat, agar menghemat air pada masa sekarang. Jika memang sudah tidak ada air untuk kebutuhan minum, kita akan mengupayakan ke BPBD Ciamis,” katanya.
Pernyataan tersebut menjadi harapan bagi warga yang kini harus bertahan dengan sumber air seadanya. Meski demikian, kebutuhan air bersih untuk keperluan dasar memerlukan penanganan yang tepat, terutama bagi warga yang sumurnya telah mengering.
Warga Berharap Ada Pasokan Air Bersih dan Sumur Bor
Di tengah kondisi yang semakin sulit, warga berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi yang lebih berkelanjutan, mulai dari penyaluran air bersih hingga pembangunan sumur bor yang dapat menjangkau masyarakat terdampak.
Bagi warga, bantuan air bersih menjadi kebutuhan mendesak ketika sumber air rumah tangga tidak lagi mencukupi. Sementara itu, sumur bor diharapkan dapat menjadi alternatif jangka panjang agar masyarakat tidak terus bergantung pada aliran sungai yang debitnya menurun setiap musim kemarau.
Kondisi di sepanjang Sungai Cipetungan menjadi gambaran nyata bagaimana kemarau panjang dapat mengganggu pemenuhan kebutuhan paling mendasar masyarakat. Warga telah berupaya bertahan melalui gotong royong dan pemanfaatan sumber air yang tersisa, tetapi kemampuan mereka terbatas ketika debit sungai terus menyusut.
Kini, harapan warga tertuju pada langkah nyata untuk memastikan ketersediaan air bersih, terutama bagi kebutuhan minum dan memasak. Sebab, ketika sumur mengering dan sungai tak lagi mengalir sebagaimana mestinya, air bersih bukan lagi sekadar kebutuhan penunjang, melainkan kebutuhan mendesak yang menentukan keberlangsungan kehidupan sehari-hari.
(Li/Tn)





