Kemarau Enam Bulan, Ribuan Warga Benteng Ciamis Gelar Salat Istisqa, Berharap Hujan Segera Turun
Buletin News.id
CIAMIS || Di tengah kemarau panjang yang mulai membatasi ketersediaan air bersih dan mengancam produktivitas pertanian, ribuan warga Kelurahan Benteng, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis, menggelar Salat Istisqa, Rabu (14/10/2026). Ikhtiar spiritual ini menjadi wujud harapan masyarakat agar hujan segera turun dan kondisi kekeringan berangsur membaik.
Salat Istisqa digelar di lapangan sepak bola di belakang kantor Dinas Perhubungan (Dishub) Ciamis. Kegiatan tersebut diikuti berbagai elemen masyarakat, mulai dari jajaran Pemerintah Kelurahan Benteng, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Majelis Ulama Indonesia (MUI), hingga Forum Koordinasi RT/RW (Forkom RT/RW) Benteng.
Sejumlah ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, pimpinan pondok pesantren, aparatur sipil negara (ASN) Dishub, santri, santriwati, serta para pelajar turut mengikuti salat berjamaah tersebut.
Dalam pelaksanaannya, Ajengan Oni bertindak sebagai imam, sedangkan khotbah disampaikan Ketua MUI Kelurahan Benteng, KH. Muslih Al Khudori.
Kemarau Berkepanjangan, Air Bersih Kian Menjadi Persoalan
Kemarau yang berlangsung sekitar enam bulan terakhir mulai dirasakan dampaknya oleh masyarakat. Di sejumlah wilayah, ketersediaan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari semakin terbatas.
Dampak kekeringan juga merambah sektor pertanian. Lahan yang mengalami kekeringan berpotensi mengganggu aktivitas bercocok tanam dan menekan produktivitas petani apabila kondisi tersebut terus berlangsung.
Situasi ini membuat persoalan air tidak lagi sekadar menjadi urusan rumah tangga, tetapi juga menyangkut keberlangsungan aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya warga yang menggantungkan penghidupan pada sektor pertanian.
Di tengah kondisi tersebut, Salat Istisqa menjadi salah satu bentuk ikhtiar masyarakat untuk memohon pertolongan Allah SWT agar hujan segera diturunkan.
Lurah Benteng: Momentum Introspeksi dan Perbaikan Diri
Lurah Benteng, Salim, dalam sambutannya menegaskan bahwa Salat Istisqa tidak semata-mata dimaknai sebagai ikhtiar untuk memohon turunnya hujan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi momentum bagi masyarakat untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki diri.
“Momentum ini juga harus menjadi ruang bagi masyarakat untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki diri sehingga menjadi insan yang beriman dan bertakwa,” ungkap Salim.
Menurutnya, kondisi kemarau perlu disikapi dengan memperkuat keimanan sekaligus membangun kepedulian sosial. Kebersamaan seluruh elemen masyarakat menjadi penting, terutama ketika dampak kekeringan mulai menyentuh kebutuhan dasar warga.
Doa Harus Berjalan Beriringan dengan Penanganan Kekeringan
Selain mengajak masyarakat memperkuat ikhtiar spiritual, Salim menegaskan bahwa Pemerintah Kelurahan Benteng tetap berupaya mengantisipasi dampak kekeringan, terutama terkait kebutuhan air bersih dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.
“Jajaran pemerintah terus mengantisipasi kebutuhan masyarakat, khususnya terkait distribusi air bersih serta dukungan terhadap kebutuhan masyarakat dan sektor pertanian yang terdampak. Persoalan kekeringan membutuhkan penanganan bersama. Pemerintah Kelurahan Benteng tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat dan berbagai elemen lainnya,” ujar Salim.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penanganan kekeringan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Ketika sumber air mulai terbatas, upaya pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat perlu menjadi perhatian bersama agar dampaknya tidak semakin meluas.
Di sisi lain, keberlanjutan distribusi air bersih dan dukungan bagi sektor pertanian menjadi bagian penting dalam menghadapi kemarau yang berkepanjangan.
Ikhtiar Bersama di Tengah Ketidakpastian Hujan
Pelaksanaan Salat Istisqa di Kelurahan Benteng menjadi simbol kebersamaan warga dalam menghadapi ujian kemarau. Ribuan masyarakat berkumpul dengan satu harapan: hujan segera turun dan ketersediaan air kembali mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Namun, di balik lantunan doa dan harapan tersebut, persoalan kekeringan tetap membutuhkan langkah penanganan yang berkelanjutan. Kebutuhan air bersih masyarakat harus menjadi perhatian, sementara dampak terhadap lahan pertanian perlu diantisipasi agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih luas.
Bagi warga Benteng, hujan yang dinantikan bukan sekadar perubahan cuaca. Turunnya hujan juga berarti harapan bagi pulihnya sumber air, terjaganya aktivitas pertanian, dan kembali normalnya kehidupan masyarakat.
Di tengah kemarau panjang, doa menjadi bagian dari ikhtiar. Sementara itu, kepedulian, gotong royong, dan langkah konkret penanganan kekeringan menjadi penopang penting agar masyarakat mampu melewati masa sulit ini.
(Alung)





