Mabokuy, Ikon Wisata Budaya Bambu Purwaraja Ciamis yang Kenalkan Kearifan Lokal kepada Generasi Muda
Buletin News.id
CIAMIS || Kreativitas masyarakat Desa Purwaraja, Kabupaten Ciamis, dalam mengolah bambu menjadi karya seni bernilai budaya terus menarik perhatian wisatawan. Salah satu daya tarik unggulannya adalah Mabokuy (Manusia Boboko Dudukuy), sebuah karya seni unik yang memadukan kerajinan bambu dengan seni pertunjukan tradisional.
Berada di kawasan Gunung Gede, Kampung Purwaraja, wisata budaya bambu ini menjadi salah satu ruang pelestarian tradisi sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, agar lebih mengenal kekayaan budaya dan potensi alam daerahnya.
Mabokuy bukan sekadar kerajinan tangan biasa. Karya ini merupakan kreativitas masyarakat yang mengubah berbagai peralatan rumah tangga berbahan bambu menjadi sosok menyerupai manusia atau robot tradisional.

Sejumlah perlengkapan yang selama ini akrab digunakan masyarakat, seperti boboko (bakul nasi), dudukuy (caping), saringan air sawah, alat untuk mengolah tanah, hingga kipas bambu, dirangkai menjadi bentuk manusia yang memiliki karakter tersendiri.
Keunikan Mabokuy semakin terasa ketika ditampilkan dalam pertunjukan. Dengan iringan alat musik tradisional, sosok manusia bambu tersebut dapat dimainkan sambil bergerak, berlari, dan menari. Perpaduan kreativitas, seni, dan tradisi inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal hingga mancanegara.
Menariknya, kesenian Mabokuy juga pernah mengukir prestasi di tingkat nasional dalam kompetisi seni dan budaya yang digelar di Kabupaten Sukabumi. Prestasi tersebut menjadi kebanggaan masyarakat sekaligus bukti bahwa budaya lokal memiliki potensi untuk dikenal lebih luas.
Pada 5 November, Kepala Desa Purwaraja bersama pemandu wisata budaya bambu turut memperkenalkan kekayaan budaya tersebut kepada rombongan wisatawan lokal. Kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada kunjungan wisata, tetapi juga memberikan pengalaman belajar secara langsung mengenai tradisi, kerajinan, dan lingkungan alam.
Pengurus Wisata Budaya Bambu, Kiki, menuturkan bahwa kegiatan wisata saat ini semakin diarahkan pada edukasi anak-anak. Mereka tidak hanya diperkenalkan dengan seni dan kerajinan bambu, tetapi juga diajak memahami proses menanam serta memelihara bambu.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin anak-anak lebih mengenal budaya daerah sekaligus memahami pentingnya menjaga lingkungan. Kami juga mengenalkan alam sekitar Gunung Gede agar mereka mengetahui arti lingkungan yang sebenarnya,” tutur Kiki.
Menurutnya, anak-anak yang tumbuh di lingkungan perkotaan perlu mendapatkan pengalaman langsung mengenai kehidupan alam dan pertanian. Mereka diajak mengenal lokasi penanaman bambu, lahan persawahan, tanaman umbi-umbian, hingga lahan produktif yang dimanfaatkan untuk menanam berbagai jenis sayuran.
Dengan demikian, wisata budaya bambu tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga ruang pembelajaran terbuka yang mempertemukan anak-anak dengan kehidupan alam dan kearifan masyarakat pedesaan.
Ketertarikan terhadap wisata edukasi tersebut juga disampaikan Jaina, pendamping siswa dari Al-Mu’minin. Ia mengatakan, pemilihan Wisata Budaya Bambu Gunung Gede Purwaraja didasari keinginan untuk mengenalkan dan menanamkan kecintaan terhadap budaya daerah kepada anak-anak.
“Kami ingin mengusung tema pelestarian budaya daerah. Karena itu, kami memilih tempat ini agar anak-anak lebih banyak mengetahui budaya yang ada di daerahnya, termasuk mengenal masyarakat lokal dan berbagai tradisi yang masih dilestarikan,” ungkap Jaina.
Ia menyebutkan, rombongan yang mengikuti kegiatan tersebut berjumlah sekitar 60 orang, ditambah dua siswa kelas V.
Selama kunjungan, para peserta mendapatkan pendampingan langsung dari pemandu Wisata Budaya Bambu. Materi edukasi dimulai dari pengenalan tari bambu, sejarah dan keunikan Mabokuy, hingga berbagai produk kerajinan lokal berbahan dasar bambu.
Bukan Sekadar Wisata, tetapi Upaya Menjaga Identitas Daerah
Keberadaan Wisata Budaya Bambu Gunung Gede Purwaraja menjadi gambaran bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mempertahankan benda atau tradisi lama. Budaya harus diperkenalkan, dipraktikkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Mabokuy menjadi salah satu contoh bagaimana benda-benda sederhana yang dekat dengan kehidupan masyarakat dapat diolah menjadi karya seni yang memiliki nilai edukasi, ekonomi, sekaligus daya tarik wisata.
Di tengah perkembangan zaman dan semakin kuatnya pengaruh budaya modern, kreativitas masyarakat Purwaraja memberikan pesan penting: kekayaan budaya lokal tidak boleh hanya menjadi cerita masa lalu.
Melalui wisata budaya bambu, anak-anak diajak mengenal akar tradisinya, memahami lingkungan, serta menghargai hasil kreativitas masyarakat desa.
Harapannya, Mabokuy dan berbagai kerajinan bambu khas Purwaraja tidak hanya dikenal sebagai tontonan wisata, tetapi juga menjadi identitas budaya daerah yang terus hidup dan berkembang hingga generasi mendatang.
(Li2/Tn)





