Tanamkan Cinta Budaya Lokal Sejak Dini, 60 Siswa MI Al-Mu’min Ciamis Belajar Langsung ke Wisata Budaya Bambu Purwaraja

Tanamkan Cinta Budaya Lokal Sejak Dini, 60 Siswa MI Al-Mu’min Ciamis Belajar Langsung ke Wisata Budaya Bambu Purwaraja

Buletin News.id

CIAMIS ||  Mengenalkan budaya daerah kepada anak-anak tidak cukup hanya melalui buku pelajaran dan penjelasan di ruang kelas. Pengalaman langsung melihat, mengenal, bahkan mempraktikkan kehidupan masyarakat menjadi cara efektif untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal sejak usia dini.

Semangat itulah yang melatarbelakangi kegiatan edukasi budaya lokal yang dilaksanakan MI Al-Mu’min Ciamis dengan mengunjungi kawasan Wisata Budaya Bambu di Desa Purwaraja. Rombongan siswa tiba menggunakan dua armada truk dari Kodim 0613/Ciamis.

Kepala MI Al-Mu’min Ciamis, Lisnawati, S.P., menuturkan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari program unggulan sekolah yang secara rutin dilaksanakan setiap tahun. Tujuannya, memberikan pengalaman belajar yang lebih luas kepada peserta didik sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya dan potensi daerah sendiri.

Menurut Lisnawati, anak-anak perlu mengetahui bahwa banyak hal yang mereka konsumsi dan gunakan setiap hari memiliki proses panjang sebelum sampai ke tangan mereka.

“Anak-anak tidak hanya belajar di atas meja dan di dalam ruangan. Mereka juga harus mengetahui bagaimana proses bercocok tanam, dari mana asal padi, bagaimana cara mengolahnya hingga menjadi makanan yang dikonsumsi sehari-hari,” tuturnya.

Ia menilai, pengenalan budaya lokal juga harus mencakup pengetahuan tentang kehidupan masyarakat pedesaan, termasuk aktivitas pertanian dan berbagai produk kerajinan tradisional.

Desa Purwaraja, menurutnya, memiliki kekayaan potensi lokal yang menarik untuk dikenalkan kepada generasi muda. Salah satunya adalah kerajinan berbahan dasar bambu yang menjadi bagian dari kreativitas dan kearifan masyarakat setempat.

Belajar Budaya Lewat Pengalaman Langsung

Salah satu hal menarik yang dapat dikenalkan kepada para siswa di kawasan Wisata Budaya Bambu adalah tradisi transaksi menggunakan alat tukar berbahan bambu dalam kegiatan tertentu.

Sistem tersebut menghadirkan pengalaman unik bagi anak-anak. Mereka tidak sekadar melihat produk kerajinan, tetapi juga dapat mengenal bentuk kreativitas masyarakat dalam menghadirkan tradisi transaksi yang berbeda dari kebiasaan sehari-hari.

Bagi Lisnawati, pengalaman seperti ini menjadi bagian penting dari pendidikan karakter. Anak-anak diharapkan tidak hanya mengenal budaya sebagai pengetahuan, tetapi juga memahami nilai, proses, dan kreativitas yang terkandung di dalamnya.

“Intinya, anak-anak harus mengetahui bagaimana proses tanaman tumbuh, bagaimana makanan dihasilkan, serta bagaimana sebuah produk kerajinan dibuat. Dengan begitu, mereka bisa lebih menghargai hasil kerja masyarakat dan mencintai daerahnya sendiri,” jelasnya.

Libatkan 60 Siswa dan 18 Pendamping

Dalam kegiatan tersebut, MI Al-Mu’min Ciamis mengikutsertakan sebanyak 40 siswa-siswi dengan didampingi 18 orang pendamping.

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen sekolah dalam menghadirkan pembelajaran kontekstual, yakni pembelajaran yang menghubungkan materi di sekolah dengan kehidupan nyata di lingkungan masyarakat.

Melalui kunjungan tersebut, siswa diharapkan memperoleh pemahaman baru mengenai pertanian, pengolahan pangan, budaya masyarakat desa, hingga proses pembuatan kerajinan tradisional.

Lebih dari sekadar kegiatan wisata edukasi, kunjungan ini menjadi upaya memperkenalkan identitas daerah kepada generasi penerus.

Sebab, mengenal budaya sendiri merupakan langkah awal untuk mencintai dan melestarikannya. Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, anak-anak perlu memahami bahwa kekayaan budaya lokal bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan warisan berharga yang harus terus dijaga.

Melalui pengalaman belajar langsung di Wisata Budaya Bambu Purwaraja, MI Al-Mu’min Ciamis berharap tumbuh generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga mengenal akar budaya, menghargai kearifan lokal, dan bangga terhadap daerahnya sendiri.

(Li2)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *